8.5 C
New York

Presma Terpilih Jadi Korwil: Semua Ada Konsekuensinya

Published:

Musyawarah Nasional (MUNAS) BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) yang diadakan pada 28 Maret hingga 4 April ini memang cukup menuai atensi. Hal tersebut disebabkan oleh kericuhan yang terjadi hingga menyita “langkah kaki” media-media mainstream untuk meliputnya. Juga untuk mahasiswa Kampus Hijau yang harus tahu bahwa Ketua Senatnya terpilih menjadi Koordinator Wilayah Sumbagut pada musyawarah besar tersebut.

Setelah dikonfirmasi beberapa waktu lalu, Rayanda Alfathira, selaku Ketua Senat Mahasiswa Universitas Negeri Medan mengaku bahwa amanah sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Sumbagut BEM SI cukup besar dan penuh pertimbangan yang tidak mentah. “Jujur sebenarnya kita merasa ini amanah yang cukup besar, untuk kita dan untuk Unimed maupun untuk Sema dan untuk saya pribadi, tapi kembali lagi bahwa keputusan musyawarah yang paling kita hargai, baik musyawarah di wilayah maupun musyawarah di internal Sema dengan pengurus inti Sema.”

“Hal ini sempat saya tanyakan juga kepada teman-teman di Sema, bagaimana jika kita menjadi koordinator wilayah? Kita tanyakan juga dengan senior-senior yang sudah berpengalaman di BEM SI bagaimana pandangan mereka jika Unimed menjadi koordinator wilayah. Pada akhirnya seluruh diskusi itu mengarah pada satu titik yaitu bersedia dengan segala konsekuensinya.” Ucap Rayanda kepada kru Kreatif beberapa waktu lalu.

Lebih jauh, Rayanda berbagi informasi tentang “konsekuensi” yang dimaksudkan olehnya. Baginya, menjadi Koordinator Wilayah Sumbagut bukan tanpa konsekuensi. Ada banyak hal yang membuatnya harus memikirkan matang-matang. “Yang pertama harus memantaskan diri selama berproses menjalankan amanah. Sehingga mampu membawa marwah Unimed ke kancah wilayah dan nasional. Kemudian Sema Unimed dan Unimed harus memiliki dampak bagi nasional, paling tidak bagi wilayah se-Sumbagut. Sebab amanah itu tentang seberapa percaya orang-orang untuk kita menjalankan amanah tersebut. Lalu, melihat kepercayaan teman-teman wilayah kita tidak terlalu tega untuk mengecewakan mereka, dengan menolak itu. Dan kita juga tidak ingin mengecewakan mereka dengan menjalankan amanah ini dengan tidak baik. Oleh karena itu, amanah ini kita terima dengan tetap memantaskan diri. Konsekuensi lainnya yakni, pemegang tonggak kepemimpinan dalam -hal ini Korwil paling tidak memimpin satu wilayah, bukanlah mereka yang paling baik, atau yang paling hebat, yang paling pintar tetapi orang-orang yang dipercayakan memegang tonggak kepemimpinan adalah mereka yang dipercaya pasti bisa menjalankan amanah.” Tutup Mahasiswa Bahasa Indonesia tersebut.

Sementara, salah seorang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni menganggap bahwa dengan terpilihnya Rayanda sebagai Korwil Sumbagut, itu artinya tanggung jawab bukan hanya di internal Sema Unimed saja, “Menurut hemat saya, jelas kaget mendengar terpilihnya Presma kita sebagai Korwil. Karena dari isu sana-sini di Unimed, Sema masih belum kompak dan ada beberapa masalah. Saya pribadi lebih kepada konsekuensi yang harus ditanggung. Menjadi Korwil bukan hal yang mudah, saya tahu itu. Sedikit kontradiksi rasanya jika internal Sema belum bersatu secara massif dan Presma menerima mandat menjadi Korwil. Semua berharap semuanya baik-baik saja. Beliau telah terpilih menjadi Korwil, maka hal yang menurut saya harus dilakukan adalah mengajak, mengayomi, membimbing, merangkul sesama tim internal Sema Unimed dahulu, baru bisa bersinergi dengan Sema se-Sumbagut. Saya berharap yang terbaik untuk Presma kita dan Sema kita.”

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles