23.5 C
New York

Nur Rahmi Aqilia dan Cerita Menjadi Fasilitator Gender dan Sex Education di GenRe Sumut

Published:

Nur Rahmi Aqilia merupakan seorang mahasiswi tingkat akhir Ilmu Komunikasi di Universitas Sumatera Utara. Pada tahun 2019, wanita yang akrab disapa Rahmi ini berhasil mendapatkan penghargaan Runner Up ke-2 pada pemilihan Duta Generasi Berencana (GenRe) Sumatera Utara. Duta Genre merupakan program yang dirancang oleh oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN).

    Selepas masa jabatannya selama satu tahun menjadi Duta GenRe, Rahmi masih harus menjalankan masa pengabdian yang berjalan selama satu tahun juga. Selama mengabdi, ia memilih untuk fokus di topik Gender dan Sex Education. Rahmi merasa bahwa ia harus mampu menyampaikan pengetahuan ini kepada seluruh kalangan masyarakat, bukan hanya untuk masyarakat di daerah pedesaan saja.

    Rahmi melakukan banyak pembekalan sebelum benar-benar meluncur ke masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai sex dan kesetaraan gender ini. Mengikuti berbagai pelatihan mengenai sex education juga salah satu bentuk keseriusan Rahmi untuk mengangkat isu ini.

    Dalam proses pelatihannya, Rahmi menyampaikan fakta-fakta yang baru ia ketahui, seperti mengenai pernikahan dini yang dilarang keras karena itu bukan hanya akan mempengaruhi mental anak, namun secara fisik pun anak yang melakukan pernikahan dini belum sepenuhnya mampu menjadi ibu. 

Rahmi juga bercerita bahwa target yang ingin ia capai terbagi menjadi beberapa kelompok. “ Jadi kita sudah susun beberapa modul yang disesuaikan dengan usia target kita nanti, ada Modul Berani dari anak usia 10-13 Tahun dimana didalamnya kita belajar tentang anggota tubuh dan area sensitif ,ada Modul Beraksi untuk anak-anak usia 14-17 tahun,dimana di dalamnya ada pengenalan mengenasi memasuki masa pre-remaja,kemudian ada Modul Berkolaborasi untuk anak usia 18-24 tahun,dan kita juga ada untuk golongan orang tua” Ujar Rahmi. 

Bagi Rahmi bukan hanya pengenalan akan Sex yang perlu diberitakan ke mayarakat luas ,lebih dari itu Rahmi juga menyampaikan bahwa memberitahu peran atau kodrat mereka dalam lingkungan juga penting,mengetahui perbedaan perempuan dan laki-laki,mengetahui hak-hak dan kewajiban sebagai perempuan dan laki-laki,dan mengenai kesetaraan lainnya juga akan dibahas dalam Modul yang tadi disebutkan Rahmi.

Dalam pembahasan mengenai kesetaraan gender ini Rahmi sendiri mengatakan kalau yang perlu ditekankan itu bukan siapa yang lebih kuat,atau siapa yang lebih baik. Namun yang ingin disuarakan adalah kesetaraan dalam ber-argument, kesetaraan dalam menempuh pendidikan, kesetaraan dalam berkarir dan kesetaraan lainnya yang bukan menjurus untuk merendahkan satu gender.

Tujuan besar Rahmi adalah agar lebih banyak orang yang mengerti dan juga sadar akan pentingnya Sex education dan Kesetaraan Gender ini. “Aku ingin kedepannya ga ada lagi kasus diskriminasi gender,mau itu toxic masculinity atau toxic feminity,bahkan di masa sekarang bukan hanya laki-laki yang merendahkan perempuan..perempuan itu sendiri merendahkan sesamanya.Jadi itu yang ingin kita ubah di masyarakat” tambah Rahmi.Rahmi juga meminta kita semua untuk turut menyebarkan pengetahuan mengenai sex dan kesetaraan gender ini agar dunia jadi lebih baik tanpa adanya diskriminasi gender, kekerasan sexual karena ketidak-tahuan korban, juga untuk menekan terjadinya pernikahan dini.

Related articles

Recent articles