16.8 C
New York

Muhasabah 2020 (Mengontrol Hati, Jiwa, dan Emosi) Oleh FSLDK Sumut

Published:

Sabtu (16/1)-Telah berlangsung acara Self Healing yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Sumatera Utara (FSLDK Sumut) dengan mengangkat tema “Muhasabah 2020 (Mengontrol Hati, Jiwa, dan Emosi).” Acara ini dilatarbelakangi oleh berlalunya tahun 2020 sebagai ajang introspeksi dan evaluasi diri dalam menghadapi tahun 2021. Acara ini terbuka untuk umum, dan dihadiri sekitar 80 orang yang terdiri dari kalangan Pelajar dan Mahasiswa. Adapun acara ini bertujuan untuk memotivasi dan menginspirasi insan agar menjadi lebih baik dari kemarin.

Tahukah kamu? Sesuai dengan telah disampaikan oleh pemateri yaitu Wahyudi (Trainer ABCo Sugesti Motivatiindo), bahwa ada 17 level energi menurut David R Hawkins, M.d., Ph.D. (29 yers old research based on kinesiology) diantaranya:

A. Energi Vibrasi Positif, terdiri atas: 1) Pencerahan/Hidayah; 2) Kedamaian; 3) Sukacita; 4) Cinta; 5) Berpikir; 6) Penerimaan; 7) Kemauan; 8) Netralitas

B. Energi Vibrasi Positif, terdiri atas: 1) Berani/Nekat; 2) Bangga; 3) Marah; 4) Keinginan/Ambisi; 5) Takut; 6) Kepedihan Mendalam; 7) Apatis; 8) Rasa Bersalah; 9) Rasa Malu.

Berkaitan dengan 17 level energi tersebut, pemateri juga menyampaikan bahwa menurut Paul Mclain, di dalam otak manusia terdapat 3 bagian, diantaranya: 1). Neokortek (berpikir, belajar, berbicara bergerak, dan berkreasi); 2) Otak Reptil (bertahan, bereaksi, dan kebiasaan); 3) Sistem Limbik (perasaan, memori, dan interaksi sosial).

Pemateri secara lebih mendalam membahas topik ini pada sesi tanya-jawab. Berikut adalah pemaparannya:

Nurul Fhadillah: Bagaimana tips mengatasi sikap malu yang berlebihan/tidak pada tempatnya?

Pemateri: Caranya adalah menempatkan sikap malu itu dengan sebagaimana mestinya. Jika sikap malu yang saat itu kita lakukan benar, maka itu merupakan hal yang wajar. Misalnya, kita malu berbuat kesalahan, maksiat, dsb. Namun, berhentilah malu dalam berbuat kebaikan atau sesuatu yang benar. Misalnya, malu berbicara di depan umum, dsb.

Falah Affandi: Bagaimana cara mengontrol nafsu yang sering sekali menggebu-gebu dan mengubah nafsu tersebut menjadi hal yang positif?

Pemateri: Kita tidak boleh lupa bahwa kita membutuhkan interaksi sosial. Hal ini bisa diatasi dengan tinggal di tempat kos yang ramai, dan saling mengingatkan kebaikan, cari kegiatan yang positif dan bermanfaat. Dengan kata lain, kita harus berada di lingkungan positif, dan melakukan kegiatan yang positif.

Peserta: Bagaimana caranya agar kita memahami kata hati?
Pemateri: Hati-hati dengan kata hati. Ingatlah bahwa hati harus dilatih. Jika kita terbiasa dengan berbuat kebaikan, maka kata hatipun demikian, begitu juga sebaliknya.

Uswatun Hasanah: Apa saja tolak ukur seseorang bisa dikatakan sudah self healing, dan bagaimana bisa dikatakan pula seseorang itu sembuh dari luka batin? Apakah di antara keduanya punya keterkaitan?

Pemateri: Tolak ukur seseorang berhasil melakukan self healing adalah tenang. Salah satu kunci ketenangan yaitu memaafkan orang lain. Sembuh dari luka batin adalah mampu memaafkan orang lain, dan tidak mengungkit. Sehingga dua hal ini berkaitan. Sepertihalnya kisah Almarhum Syeikh Ali Jaber, memaafkan kesalahan orang yang mencoba menusuknya.

Fildza Hani Mastura:
Apakah self healing atau mengontrol emosi juga bisa melalui menangis?
Apakah dengan menangis akan berdampak tidak baik untuk tubuh?
karena saya pribadi dengan menangis, bisa menenangkan hati saya.
Pemateri: Air mata kebaikan adalah respon dari tubuh kita, dan baik untuk tubuh kita. Misalnya, sedih berbuat dosa, sedih berbuat kemaksiatan, dan sebagainya atau bentuk dari self reminder lainnya.

Nabila agustin: Bagaimana mengatasi kepribadian yang overthinking hingga menggangu mood, jiwa dan aktivitas diri. Apa yang harus dilakukan saat itu terjadi?
Pemateri: Kita tidak boleh jadi orang yang moody-an. Jangan tunggu mood untuk melakukan kebaikan. Cara mengatasi hal ini adalah melakukan segala kegiatan karena-Nya. Sehingga nafsu dalam diri kitapun dapat terkontrol dengan benar.

Pada akhir acara, pemateri menyampaikan kalimat inspiratif yang memotivasi setiap orang agar menjadi insan yang lebih baik lagi pada awal tahun ini:
“Memaafkan tidak dapat mengubah masa lalu, namun memaafkan mampu memperindah masa depan.”

Related articles

Recent articles