29.9 C
New York

Minimnya Literasi Picu Kontroversi antara Mahasiswa dan Buruh

Published:

Medan, Persma Kreatif – Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dengan slogan “Orang Miskin Dilarang Sarjana” menimbulkan kontroversi. Slogan ini disalahartikan oleh beberapa buruh yang merasa tersinggung, padahal tujuannya adalah untuk mengkritik kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru Unsoed.

Kesalahpahaman ini menyoroti pentingnya memahami konteks dan maksud di balik sebuah pernyataan daripada menarik kesimpulan berdasarkan interpretasi yang dangkal.

Slogan tersebut dibuat untuk menyindir kebijakan universitas yang menaikkan biaya kuliah secara signifikan, bukan untuk merendahkan kalangan buruh. Poin dari slogan tadi tidak sampai bagi mereka yang tidak memahami konteks di balik pembuatannya. Oleh karena itu, penting untuk melihat latar belakang dan tujuan di balik slogan mahasiswa Unsoed tersebut. Penggunaan kata-kata dalam slogan ini adalah cara umum untuk menyampaikan kritik atau kekecewaan terhadap suatu keputusan.Kasus ini juga menyoroti pentingnya literasi dalam memahami dan menafsirkan konteks yang terjadi di sekitar kita. Tanpa pendidikan dan pemikiran kritis, orang dapat salah menafsirkan atau salah memahami informasi, yang dapat menimbulkan konsekuensi negatif.

Penting bagi setiap orang untuk mengembangkan kemampuan literasi dan melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat keputusan yang tepat sehingga tidak menimbulkan kontroversial. Slogan yang disalahpahami ini merupakan pengingat akan pentingnya berpikir kritis dan literasi. Penting bagi seseorang untuk mempertimbangkan berbagai perspektif dan menganalisis informasi dengan cermat sebelum membentuk opini. Dari kasus ini kita tau bahwa minat literasi yang rendah memicu kesalahpahaman.

Kesimpulannya, slogan “Orang Miskin Dilarang Sarjana” bukan dimaksudkan untuk merendahkan “Orang Miskin” melainkan sebagai sindiran untuk mengkritisi keputusan universitas yang menaikkan biaya kuliah. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya literasi, berpikir kritis, dan memahami konteks informasi.

Penulis: Dio dan Wahyu

Editor: Chairunnisa

Ilustrator: Syakira

#persmakreatif #persmahasiswa #opini #MinimnyaLiterasiPicuKontroversiAntaraMahasiswadanaBuruh

Related articles

Recent articles