15.3 C
New York

Mengenal Likas Tarigan, Kartini-nya Sumatera Utara

Published:

Membaca buku “Bukit Kadir” Karya Letjend Jamin Ginting sedikit banyak turut merasakan bagaimana pahitnya pergolakan kemerdekaan Indonesia saat itu. Mulai dari dijajah oleh Belanda, Jepang, maupun hiruk-pikuk agresi militer sekitar tahun 1947. Apalagi salah satu yang paling mengiris hati ketika Agresi militer Belanda pertama yang berlangsung dari Juli 1947 sampai 17 Januari 1948. Yang berakhir dengan gencatan senjata melalui perjanjian Renville yang diprakarsai oleh dewan keamanan PBB. Gencatan itu melahirkan suatu ketentuan, yakni pihak Indonesia menerima garis demarkasi “Van Mook”, garis yang ditentukan oleh Gubernur Jenderal Belanda, Van Mook, sebagai garis status quo yang memisahkan daerah-daerah yang dikuasai kedua belah pihak. Konsekuensi dari perundingan ini adalah bahwa semua pasukan Indonesia yang berada dalam daerah yang ditentukan oleh garis Van Mook harus keluar ke daerah yang masih dikuasai republik Indonesia. Dengan demikian, semua pasukan di daerah Tanah Karo harus ditarik dan pasukan hijrah ke Aceh. Pada 6 Februari 1948, pasukan kita dengan teramat sedih harus mundur sepanjang 51 km ke seberang Lau Pakam. (Bukit Kadir, Mayor Jenderal Djamin Gintings)

Ketika kita berbicara soal betapa loyalnya dan teguhnya Pak Djamin Ginting (bahkan namanya diabadikan pada suatu jalan Medan-Berastagi yang panjang), kita juga jangan melupakan sosok paling penting dan berjasa dalam hidupnya yakni istrinya, Likas Tarigan. Likas Tarigan merupakan sosok kaya inspirasi. Hal tersebut dibuktikan dengan kisahnya yang banyak diangkat. Salah satunya dalam sebuah buku “Perempuan Tegar dari Sibolangit” karya Hilda Unu Senduk dan Film “Tiga Nafas Likas”.

Representasi kesetaraan gender maupun penentangan terhadap konstruksi masyarakat dilakukan oleh sosok Likas pada masa dulu. Perempuan yang lahir pada 13 Juni 1924 ini juga pernah menjabat sebagai anggota MPR-RI dan organisasi perempuan yang cukup esensial sinerginya. Tak heran, jika sedari dulu Likas kecil yang tinggal di Desa Suka, Sibolangit, terus memperhatikan bagaimana ketidakseimbangan norma masyarakat maupun merasakan keterkekangan sebagai seorang perempuan.

Likas dahulu sempat mengalami polemik dengan ibunya pasca Likas memutuskan untuk melanjutkan sekolah keguruan. Ibunya tak ingin Likas melanjutkan sekolah. Beliau berharap agar Likas sebagai seorang perempuan hendaknya membantu keluarga (Likas sempat ingin diungsikan ke rumah saudaranya agar dapat membantu saudaranya di sana). Inilah awal pemberontakan seorang Likas Tarigan terhadap konstruksi nan konservatif dari adat. Semakin hari ia juga mengamati bagaimana adanya ketidaksetaraan akses antara laki-laki dengan perempuan. Hegemoni yang dilakukan oleh laki-laki semakin mengindikasikan bahwa tempat tinggalnya dipenuhi oleh masyarakat yang patriarkis. Dalam buku “Perempuan Tegar dari Sibolangit” karya Hilda Unu Senduk yang menjelaskan soal riwayat hidup Likas Tarigan, menceritakan betapa bingung dan jengkelnya sosok Likas mencermati pola masyarakat. Dimana untuk urusan pekerjaan, perempuan Karo juga ikut membantu suaminya di ladang. Sementara sewaktu pulang dari ladang, istri tetap harus melakukan tugas-tugas domestik seperti mencuci, menumbuk padi, memasak, dll. Sementara suami pergi bersama teman-temannya ke kedai tuak, nongkrong, dan mabuk-mabukan.

Secara konstruktif dan berpijak pada sistem patriarkis yang berkembang pada saat itu, marginalisasi terhadap perempuan cukup kentara. Batasan-batasan tertentu menjadikan atau menempatkan perempuan dalam kekangan norma yang dianggap aksioma. Hal tersebutlah yang mengusung bahwa peran domestik harus dilakukan perempuan. Dalam tradisi patrilineal (sistem merga adat Karo), privilese seorang perempuan sungguh kecil dalam konteks pewaris garis keturunan atau norma-norma lainnya. Perempuan dibentuk dan dikonstruksi sedemikian rupa. Konstruksi ini melingkupi hal-hal yang bahkan bersifat pribadi bahkan mengatur perasaan.

Perempuan tidak punya hak dalam memilih dan menentukan kebijakan dalam hidupnya. Bahkan tragisnya, secara tidak langsung masyarakat menganggap bahwa standar kemanusiaan perempuan ditentukan oleh sejauh mana ia memberi manfaat bagi laki-laki. Subordinasi kepada perempuan berlebihan, namun citra Likas berusaha keluar dari jalur konvensi adat. Likas bukanlah digolongkan sebagai perempuan konservatif dan taat pada adat istiadat. Hingga tak heran jika banyak masyarakat Karo yang menganggap Likas terlalu memberontak. Padahal apa yang disampaikan oleh Likas adalah spirit meraih kesetaraan akses. Baik pendidikan maupun akses sosial lainnya.

Likas merupakan representasi yang tepat dari seorang R.A. Kartini di Sumatera Utara. Menjadi seorang istri dari pahlawan Nasional (Djamin Ginting yang pada masanya memiliki pangkat yang tersohor) menempatkan sosok Likas Tarigan tak luput dibicarakan media. Puncaknya saat ia menjadi anggota MPR-RI. Dari Likas Tarigan kita benar-benar dapat belajar esensi tegar, disiplin, serta semangat perjuangan. Selamat hari Kartini, Likas Tarigan!

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles