25.1 C
New York

“Matahari Bulan Desember” : Manifestasi Dobrakan Akhir Tahun

Published:

“Matahari Bulan Desember” menjadi tajuk esensial untuk pertunjukan yang diprakarsai oleh gabungan komunitas sastra dan teater kota Medan, seperti Teater Iqra Medan, Temuga, Medan Teater, Fokus Umsu, dan Teater LKK Universitas Negeri Medan. Pertunjukan digelar di ruang tari, Taman Budaya Sumatera Utara lama, Jl. Perintis Kemerdekaan pada Minggu, 27/12/2020 dari pukul 20.00 WIB.

“Kami ramai-ramai memikirkan tema apa yang agaknya sesuai jika diangkat dalam pertunjukan yang akan diselenggarakan. Mungkin ‘Matahari Bulan Desember’ filosofinya dapat dimaknai sebagai ‘matahari’ sang pemberi kehidupan. Atau dimaknai secara keseluruhan adalah sebagai eksistensi dan menunjukkan bahwa sampai sekarang ini di bulan Desember (akhir tahun) kita masih hidup.” Tutur Ahmad Munawar Lubis, seorang Pegiat Seni di TBSU dan juga merupakan salah satu penggagas pertunjukan gabungan ini.

Pertunjukan ini diisi oleh beragam penampilan. Seperti Teater Iqra Medan menggagas musikalisasi puisi “Tangkahan” dan “Orang-orang Bawah”, Fokus Umsu dengan pembacaan puisi “Setiba Kematian” karya Candra Malik, dramatic reading “Kisah Cinta Hari Rabu” oleh Temuga, Teater LKK Unimed mengusung visualisasi puisi W.S. Rendra berjudul “Sajak Orang Lapar”, dan Rehearsal produk 2021 yang merupakan on progres Medan Teater pada naskah Absurd karya Beckett: End game dan naskah Pinangan karya Anton Chekov yang disutradarai langsung oleh Ahmad Munawar Lubis.

“Untuk menggagas acara ini mungkin secara organizer atau manajemennya hanya seminggu setelah gagasan tajuk acara disepakati. Dengan catatan khusus adalah untuk latihannya mungkin beberapa komunitas telah lama mempersiapkan atau mungkin mengusung kembali pertunjukan atau garapan-garapan yang pernah dipentaskan.” Ahmad Munawar menambahkan.

Lebih jauhnya, substansi diadakannya pertunjukan gabungan oleh beberapa komunitas sastra dan teater kota Medan adalah bentuk dobrakan akhir tahun. “Jadi selama pandemi begini kan, kita mencari alternatif virtual. Namun sepertinya kami belum mampu mewujudkannya atau alternatifnya juga kurang memadai. Para seniman-seniman juga kurang puas. Tapi yang jelas, di akhir tahun ini kami (komunitas-komunitas sastra dan teater) memberanikan diri dengan menggelar acara langsung namun tetap mematuhi protokol kesehatan. Sehingga muncul lah gagasan untuk tampil bareng. Kami juga membatasi penonton sebanyak 50 orang saja, karena ada ultimatum dari Kapolri. Selebihnya, kami tayangkan live di Instagram. Lagian, momen ini juga pas karena Taman Budaya Sumatera Utara kan sudah pindah ke Jl. Gatot Subroto, jadi biarlah kami dan kawan-kawan menutup akhir tahun dengan pertunjukan gabungan, mungkin juga sekaligus penutupan pertunjukan pasca Taman Budaya pindah tempat. Kita juga tidak tahu kan gedung eks ini nantinya jadi apa?” Tutup Ahmad Munawar.

Salah seorang penonton, Zulfahri dari Komunitas Ruang Sastra memberi apresiasi terhadap acara gabungan komunitas sastra dan teater kota Medan di akhir tahun ini. Menurutnya, acara yang digelar cukup bagus. “Overall sangat bagus, keren, menghibur, dan positif. Mengingat beberapa waktu lalu sempat gempar polemik perpindahan Taman Budaya yang mungkin menjadi kabar duka bagi seniman-seniman yang aktif menggelar garapan di sini. Jadi, apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap acara ini, namun saya juga cukup sedih dengan sedikitnya pertunjukan, yang sama-sama kita ketahui bahwa hal tersebut adalah pengaruh dari pandemi Covid-19. Saya melihat bahwa acara ini merupakan bentuk apresiasi terakhir seniman-seniman pasca gedung Taman Budaya dipindahkan. Saya sangat senang ada acara seperti ini lagi setelah beberapa waktu lalu sempat vakum. Rangkaian acara ini seperti membangkitkan lagi gairah Pegiat Seni baik itu siswa, mahasiswa, maupun komunitas sastra dan teater. Seperti hiburan tersendiri juga, apalagi memasuki bulan akhir semester bagi mahasiswa. Saya juga memandang garapan-garapan tadi mungkin sebagai bentuk kekecewaan dialihungsikannya Taman Budaya sekaligus cara mereka mengukir kenangan-kenangan di gedung eks ini.” Tutup Zulfahri.

Related articles

Recent articles