asd
25.9 C
New York

LPM Bahana UNRI Angkat Tema Kenal Satrawi pada Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional

Published:

Medan, Persma Kreatif — 19-23 Juli 2022 telah dilaksanakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) oleh LPM Bahana Universitas Riau dengan tema “Kenal Sastrawi VI”. PJTLN ini diikuti oleh 19 peserta, perwakilan dari masing-masing Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Palembang, Lampung dan Makassar. PJTLN yang dilaksanakan Bahana UNRI mengundang pemateri yaitu Andreas Harsono sebagai pendiri Yayasan Pantau yang didatangkan langsung dari Jakarta dan Alfian Hamzah sebagai Wartawan Indopres.

Pembukaan acara diawali dengan perkenalan delegasi dan pembawaan materi oleh Alfian Hamzah. Materi yang dibahas ialah mengenai Literary Journalism. Alfian juga menyampaikan cara mendeskripsikan suatu hal pada situasi, suasana dan keadaan lainnya dalam “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” tulisannya tahun 2003. Pembawa materi oleh Alfian Hamzah berlangsung selama dua hari dan ditutup dengan kunjungan ke RTH Taman Putri Kaca Mayang dan Kampung Bandar-Cagar Budaya Rumah Tuan Kadhi.

Selanjutnya Andreas Harsono yang memberikan materi mengenai Feature. Ia mengajak peserta saling bertukar pikiran membahas perundingan (pelecehan seksual). Ia juga membahas mengenai ‘Writing Tools’ dari buku Roy Pieter Clark. Andreas berpesan “menulis ibarat membangun rumah, jika belum ada perkakasnya rumah tak akan terbangun, sama halnya pada saat menulis.” Kegiatan hari keempat ditutup dengan malam kebudayaan. Masing-masing daerah menampilkan kebudayaan, mulai dari menyanyikan Lagu daerah dan tarian daerah.

23 Juli 2022 penutupan PJTLN diakhiri dengan kunjungan wisata ke Kerajaan Siak Sri Indrapura dengan menempuh perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibu kota Riau. Fachrul, salah satu delegasi dari LPM Intelligent Makassar mengunggapkan kekagumannya pada Kerajaan Siak, “menurutku kerajaan Siak berbeda dengan kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Karena kalau di Sulawesi kerajaan-kerajaannya menganut agama hindu-buddha, sedangkan kerajaan Siak menganut agama Islam. Hal itu cukup membuat saya terperangah, sebab yang saya pelajari juga mengenai kerajaan, kerajaan-kerajaan tersebut mayoritas bergama hindu-buddha. Banyak tahap dan proses untuk menjadi kerjaan islam.”

Rama perwakilan LPM Perspektif USK Aceh  turut berharap agar silaturahmi dan koneksi sesama peserta PJTLN terus berjalan dan terjaga meski telah kembali ke daerahnya masing-masing.

Kru: Jessica

Related articles

Recent articles