12.9 C
New York

KULIAH DARING” ATAU “KUMPUL TUGAS DARING” ?

Published:

Mendengarkan gosip-gosip jalanan mungkin akan lebih menarik daripada harus mendengarkan cover lagu oleh Felix yang akhir-akhir ini sering menjadi tamu setia di telinga. Bagaimana tidak? Di rumah, di cafe, di pusat perbelanjaan, bahkan di WC (kalau dalam kasus ini tetangga yang memutar musiknya sehingga terdengar sampai kamar mandi) juga turut mengumandangkan cover ala-ala suara bariton yang membuat beberapa perempuan berteriak “Uuuh ucul deh, bang Felix! nikahin aku, dong!” seperti itu. Eh, kok jadi bahas Felix, sih? Baiklah, fokus pada pembahasan mendasar.
Gosip-gosip jalanan yang dianggap “seru” ini adalah sumbang-sumbing beberapa mahasiswa korban kuliah daring yang menjadi alternatif perkuliahan karena merebaknya Covid-19. Saya mendengar bahwa bukan “instrumen maupun kuliah daringnya” yang dipermasalahkan mereka, namun lebih kepada tugas yang diberikan dan sikap beberapa dosen dalam menginterpretasi esensi “kuliah daring” tersebut. Sebelumnya, kita sudah membahas mengenai permasalahan antara kuliah daring dan konstruksi berpikir orang tua (lihat postingan di lama persmakreatif.com sebelumnya) yang menjadi permasalahan serius, eh sekarang justru mendengar permasalahan baru lagi dari mulut-mulut kaum penggiat skripsi terhadap beberapa kaum yang telah memperoleh tesis atau disertasi.

Wajah-wajah Mahasiswa saat ini terlihat resah, letih, lesu, rimpuh, lunglai, atau setan-setannya yang lain (disini masih konsep semu sebab tidak tahu apakah air muka tersebut tercipta karena lelah sebab mengerjakan tugas dan tuntutan kuliah, atau pada dasarnya mereka memang pemalas sehingga tugas-tugas dikambinghitamkan). Yep, adalah hal yang terhormat bukan jika kita tak menggeneralisir sikap dan respon tersebut? Kembali pada hal yang cukup pelik, bahwa apa yang dimaknai sebagai perkuliahan daring justru menimbulkan kontradiksi antar esensi. Covid-19 yang menjadi pandemi dan sugesti publik memicu perkuliahan daring harus dilakukan apapun alasannya. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul dan membumbung, “bagaimana sih yang dikatakan kuliah daring itu?”

Menyikapi himbauan pemerintah terkait diberlakukannya kuliah daring, bahwa pada hal nan substansial kuliah daring sebenarnya sama saja seperti kuliah luring (kuliah tatap muka seperti biasa, diimana dosen memberi materi, kelompok presentasi, adanya diskusi antar mahasiswa dengan mahasiswa atau mahasiswa dengan dosen, penyampaian argumen serta gagasan, mengkritik dan memberi saran kelompok penyaji, membahas dan menguliti materi yang ada di RPS, penugasan, dan lain sebagainya. Beda antara kuliah daring dan luring adalah basis atau instrumennya saja. Sementara dengan sistem? Sepertinya “Kuliah Daring” yang sehat adalah kuliah daring yang tak kehilangan esensi “kuliah”-nya. Sekalipun sistem berubah, namun saya maknai perubahan sistem tersebut adalah dalam representasi skala yang relatif kecil.
Sedikit seru bila membahas gosip-gosip jalanan yang beredar. Dalam hal ini, beberapa mahasiswa mengeluh sebab dalam melaksanakan kuliah daring mereka justru hanya diberi beban tugas, tugas, dan tugas oleh beberapa dosen. Nah, peristiwa tersebut menimbulkan pertayaan besar, “Apakah esensi kuliah adalah proses penugasan?” tentu jika kita mengawinkan antara esensi “kuliah” dengan tafsiran “proses penugasan” cenderung terlalu sempit bukan? Ya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kuliah” memiliki arti yaitu sekolah tinggi, pelajaran yang diberikan di perguruan tinggi, dan mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Lantas, apakah “proses penugasan” mampu merepresentasikan esensi kuliah secara general? Tentu tidak dong! Segala yang dikatakan “kuliah” bukanlah seperti, “Guys, aku udah ngumpul tugas, ya!” atau “Anak-anak, kuliah kita hari ini yaitu mengumpulkan tugas mengenai perkawinan silang antara monyet dan burung pelikan, ya!” Bagaimana? Secara subjektif katakanlah bahwa kuliah adalah segala proses di perguruan tinggi yang melibatkan keikutsertaan atensi dalam proses pembelajaran baik mahasiswa maupun dosen. Tak pula dapat dikatakan bahwa pernyataan tersebut adalah esensi objektif atau intersubjektif. Karena toh, kebenaran yang sesungguhnya hanyalah sebatas konsensus atau kesepakatan saja. Jadi, mau diterima atau tidak, ya itulah esensi “kuliah” bagi sebagian
Kembali pada gosip-gosip jalanan yang berdesih sumbang layaknya angin di jalan raya, “wah, kita benar-benar hanya kumpul tugas doang, ya?” ada juga yang berdesis “udah seminggu lebih diberlakukannya kuliah daring tapi hanya ada satu dosen yang memberikan PPT. Dan itu hanya sekadar ngasih, selebihnya? Ya tugas lagi. Belum ada dosen yang menjelaskan materi sama sekali.” Dan “Tidak ada yang memberi penjelasan spesifik mengenai materi yang ada dijadwalkan di RPS, sebagian besar dosen sibuk memberi tugas dong, ya!” saya jadi bingung, dalam kuliah daring ini letak esensi “kuliahnya” dimana, sih? Tugas?
Saat ini memang tidak bisa dipastikan apa yang anda pikirkan, dan anda juga tak bisa memastikan apa yang masyarakat pikirkan. Namun, di tengah gaduhnya gosip-gosip jalanan tersebut, ada alunan suara yang mengatakan, “Wah, kuliah daring kami asyik, kok. Bahkan sebagian besar dosen pengampu mata kuliah yang kami emban itu menjelaskan secara spesifik di WhatsApp group. Bahkan ada dosen yang memberi penjelasan dengan ‘live’ di Line. Bahkan untuk menanggapi makalah kami pun beliau live. Jadi kuliah daring kami tidak sebatas pemberian tugas.” Cukup beruntung mereka bukan? Nah dalam hal ini, mungkin pernyataan alunan suara yang “wangi” tersebut cukup dapat membatasi agar mahasiswa seantero negeri tak menggeralisasi bahwa semua dosen tidak sekadar memberikan tugas saja dalam perkuliahan daring. Namun, juga masih terdapat banyak dosen yang memaparkan dan menjelaskan secara spesifik materi perkuliahan layaknya kuliah luring pada umumnya.

Nah, menyikapi peristiwa “kuliah daring” ini, hendaknya baik mahasiswa maupun dosen sama-sama bersikap bijak. Peran dosen dalam kuliah daring tidak hanya sekadar memberi tugas lalu urusan selesai, begitu juga dengan mahasiswa yang harus membatasi diri agar tidak menggeneralisasi pernyataan “semua dosen hanya memberi tugas saja dalam perkuliahan daring.” Untuk itu, harapannya sih semua bijak dalam bersikap dan semua bijak dalam menyikapi pandemi virus Corona. Jangan lupa menjaga kesehatan juga, ya!
Hidup Mahasiswa!

Related articles

Recent articles