29.5 C
New York

Kondisi Literasi Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Gemarca Ajak Seluruh Mahasiswa Untuk Mulai Minat Membaca

Published:

Guna mengajak seluruh mahasiswa se-Indonesia untuk meningkatkan minat baca, Generasi Gemar Membaca (Gemarca) mengadakan diskusi melalui Live Instagram bersama seorang Inisiator Gerakan Baca Bareng, Hestia Istivani sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Aisha Tania S. Sikoko sebagai moderator, dimulai pada pukul 20.00 WIB – 21.00 WIB.(Sabtu, 02/10)

Kegiatan tersebut berangkat dari riset sederhana yang dilakukan oleh Gemarca tentang durasi membaca mahasiswa USU. Dari data didapatlah 67.4% mahasiswa USU hanya membaca 0-2 jam perhari, padahal anjuran UNESCO 4-6 jam sehari. Selain itu, 70.9 % mahasiswa merasa kondisi literasi membaca sedang tidak baik-baik saja.

Dari kondisi tersebut mereka mengusung tema “Mulai Baca 101: Mulai dari yang kamu suka”. Membaca tak jauh-jauh dari buku, sebagai awal dari diskusi moderator bertanya perihal apa arti buku bagi seorang Hesti?. Baginya buku sudah menjadi bagian dari hidup, seperti makan. Sudah menjadi hal yang esensial, terutama di kala pandemi untuk menjaga dirinya agar tetap waras, sehat secara psikis/mental.

Narasumber menjelaskan, cara untuk mulai minat membaca bisa dari ketertarikan kita mengenai suatu isu, kemudian menonton video dulu, lalu nantinya untuk memuaskan ketertarikan kita tadi, kita bisa lanjut pada artikel atau buku-buku terkait isu tersebut. Sebenarnya membaca tidak harus dari buku, bisa dari artikel, komik, film, dan lain sebagainya.

“Untuk cinta pada membaca sama halnya ketika kita cinta pada seseorang. Jatuh cinta pada membaca maka harus melakukan pendekatan dengan membaca, dengan cara terus membaca, lalu lama kelamaan akan nyaman sama membaca, sehingga kita bisa bijak setiap mengambil keputusan.” Ucap Hesti.

Lanjut ia mengatakan bahwa setelah membaca kita tidak akan menjadi orang yang sama. Bacaan mempengaruhi bagaimana kita berpikir, berucap dan bertindak. Ia pun turut merekomendasikan buku digital yang mudah diakses oleh para mahasiswa, seperti e-pusnas atau ada juga aplikasi digital perpustakaan lainnya di setiap kota atau provinsi masing-masing. Sebagai pekerja di salah satu penerbitan Indonesia, Hesti melarang keras buku-buku atau ebook yang didapat secara ilegal, karena dapat mematikan sistem ekonomi literasi. Bukan hanya penulis saja yang dirugikan, tetapi seluruh tim penerbitan, terutama tim kreatif.

Diakhir sesi diskusi, perempuan Insiator Baca Bareng tersebut memberikan closing statment, “untuk teman-teman semua, dengan ini semoga menjadi tau memulai membaca dengan apa dan bagaimana. Membaca tidak harus dalam bentuk bukunya yang tebal-tebal, tetapi bisa dari berbagai akses yang mudah untuk digunakan. Seperti contohnya tadi e-pusnas, situs-situs maupun aplikasi, yang sudah dibuat pemerintah untuk memudahkan akses kita dalam membaca, apalagi dalam bentuk digital.” Tutupnya.

Related articles

Recent articles