16.8 C
New York

Kajian Lingkar Immawati Meneladani Ketauhidan Asiyah dan Siti Masyitoh

Published:

PK IMM K.H. Ahmad Badawi pada dalam kajian Lingkar Immawati dengan tema “Meneladani Ketauhidan Asiyah dan Siti Masyitoh” menghadirkan pembicara kakanda Dinda Fadilah yang merupakan Sekbid Pendidikan Senat Mahasiswa UNIMED (2010-2012), juga yang tergabung dalam KISAH (Komunitas Syiar Nabawiyah) dalam kajian kali ini berkesempatan untuk memberikan kajian kepada Immawati se-Unimed Minggu, 14/03/2021 Pukul 10.30. Kajian dilaksanakan secara offline di Masjid Taqwa Tanah Tinggi Jl. Srikandi dan online melalui google meeting.

Wanita yang sempurna menurut Rasullah SAW “ banyak dari kaum laki-laki sempurna dan dari kaum perempuan tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun, Mariam biti Imron dan sungguh keutamaan asiyah dari perempuan seperti keutamaan bubur thalid (bubur yang paling utama)”HR. Muslim

Asiyah merupakan wanita pertama yang beriman kepada Allah dimasa Fir’aun, sedangkan Siti Masyitoh adalah wanita shaleha yang kisahnya pertama kali terungkap ketika Rasulullah melaksanakan Isra’ Miraj. Di Sidratul Muntaha Rasulullah mencium bau yang sangat harum dan bertanya kepada Jibril dari mana asalnya. Jibril mengatakan itu bau dari kuburan Siti Masyitoh beserta anak-anaknya.

Perjuangan Asiyah dan Siti Masyitoh dalam memperjuangkan keimanannya tidak terlepas dari siksa yang mereka dapatkan dari Firaun. Ketika itu Asiyah menyaksikan seorang budak yang disiksa olehnya, ia berkata “Wahai Fir’aun, mengapa engkau menyiksa orang yang beriman”. Mendengar isteri yang paling dicintainya itu ia bertanya apakah Asiyah termasuk Golongan dari mereka. Asiyah menjawab “Ya”. Murkanya Fir’aun memuncak, lalu dibawanya Asiyah ketengah padang pasir dengan kaki yang tertanak, dicambuk Asiyah hingga terlihat tulang dari lukanya. “Jika kamu mengatakan kamu beriman kepadaku, maka akan ku hentikan penyiksaan ini”. Asiyah yang tetap teguh dengan keimanannya kepada Allah ditengah siksaan yang ia dapatkan dari Fir’aun. Disaat sakitnya tidak tertahankan ia berdoa dalam kesakitannya, yang terdapat dalam Q.S At-Tahrim: 11. Setelah itu Allah melihat surga hingga Asiyah tersenyum. Melihat Asiyah yang sedang tersenyum walau mendapat siksaan olehnya, Fir’aun sangat marah hingga mencambuk Asiyah dengan brutal hingga ia meninggal. Namun, pada riwayat lain disebutkan bahwa Asiyah telah diangkat ruhnya 1 detik sebelum Fir’aun murka, sehingga ia tidak merasakan sakit.

Berlanjut ke kisah Siti Masyitoh yang merupakan tukang sisir anak Fir’aun dari isteri pertamanya. Keimanan Siti Masyitoh terungkap ketika ia sedang menyisir rambut anak Fir’aun yang bernama Putri Anisa. Sisir itu terjatuh dari tangannya, kemudian Siti Masyitoh mengucapkan kalimat thayyiban. Anak dari Fir’aun yang belum pernah mendengar kalimat tersebut sebelumnya bertanya. “Apakah Rabb yang kamu maksud adalah ayahku?”. Ia menjawab “Tidak, itu adalah Rabb ku dan Rabb mu, serta Rabb ayah mu”. Anisa yang tidak terima lalu mengadu ke ayahnya. Hingga Fir’aun memerintahkan kepada prajuritnya untuk menyiapkan kuali yang besar untuk merebus Siti Masyitoh beserta ketiga anaknya karena menolak mengakui ia sebagai Tuhan. Dilemparkan satu persatu anaknya kedalam kuali yang mendidih itu, hingga pada anak ketiga yang saat itu masih diusia menyusui. Naluri seorang ibu yang tidak tega melihat anaknya hingga gemetar lah ia melihat nasib anaknya. Allah mengilhamkan anak tersebut untuk bisa berbicara, berkatalah bayi itu “Wahai ibuku siksaan di dunia ini masih ringan dibandingkan dengan siksaan diakhirat”. Siti Masyitoh tersenyum mendengarnya lalu ia mengatakan permintaan terakhirnya agar tulangnya dan anak-anaknya dibungkus kain putih lalu dikuburkan ketanah. Sama seperti Asiyah sebelum melompat kepanci yang mendidih Allah telah mencabut ruhnya, sehingga ia tidak merasakan siksa dunia.

Dari kedua kisah wanita ahli surga tersebut, kita sebagai wanita akhir zaman dapat menauladani kesabaran Asiyah dan Siti Masyitoh dalam memperjuangkan ketauhidannya hingga akhir hayat. Sabar yang dimaksud ialah kesabaran yang dapat dilihat dari 3 aspek yaitu sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, sabar dalam menjalankan ibadah.

Dalam penutup kajiannya kakanda Dinda Fadilah memberikan statement “aku sang wanita akhir zaman, aku sang wanita pendosa yang memohon ampunan, dan aku sang wanita akhir zaman yang meneladani para shahabiyah, walau tak semulia dan sesuci beliau namun aku tetap ingin bertahan dalam kekuatan”. Serta mengingatkan bahwa menjadi wanita itu kehendak Allah, menjadi cantik itu relatif, menjadi muslimah itu anugerah, tetapi menjadi muslimah yang sholehah itu pilihan, dan pilihan itu ada padamu.

Related articles

Recent articles