15.3 C
New York

Impact Of Yournalism Bersama Kompas “menjadi jurnalis di Independen di Sosial Media

Published:

Medan, Persma Kreatif — Dalam rangka perayaan Hari Pers Nasional, Kompas menghadirkan talkshow virtual dengan tema “Impact of Yournalism: Create, Share & Collaborate in Digitalization” Sabtu, (12/2) melalui Zoom dan YouTube live streaming. Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Adi Prinantyo, Redaktur Pelaksana Harian Kompas dan Ferry Irwandi, seorang content creator.

Acara dibuka dengan kata sambutan oleh F.N Terryan selaku Vice GM Marketing Harian Kompas dan Kompas.id. Beliau menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membahas bagaimana suatu berita itu dipersiapkan dan diseminasikan ke masyarakat.

“Jika dulu, satu institusi yang resmi adalah pembawa informasi. Namun sekarang seiring berkembangnya teknologi, siapapun bisa menyampaikan konten. Tentu hal ini menjadi suatu kemajuan dimana informasi bisa mudah didapatkan. Namun disisi yang lain, jika konten yang disampaikan kurang dipersiapkan dengan baik, tentu konten tersebut beresiko untuk menjadi hal yang keliru,” tutur F.N.

Berdasarkan pemaparan dari pemateri pertama yakni Adi Prinantyo, aktivitas jurnalistik sebelum dan setelah era digital tentulah berbeda. Digitalisasi memberikan banyak dampak seperti terjadinya banjir informasi di mana publik dihampiri informasi yang sebagian belum terjamin kebenarannya. Kemudian, publik tidak memiliki kemampuan untuk menyeleksi informasi sehingga mayoritas memilih langsung mempercayainya. Bahkan, banjir informasi sedikit banyak menggerus pengaruh media arus utama. Oleh karena itu, Kompas tentu harus berjalan sesuai digitalisasi yang ada dengan tetap memegang kepercayaan masyarakat.

Dalam pemaparan yang disampaikan oleh pemateri kedua, Ferry Irwandi, tentu ada banyak tantangan dalam membuat konten. Pertama, alogaritma. Setiap media sosial memiliki alogaritma sendiri.

“Sejago-jago apapun kita ngolah bola, sehebat apapun kita nendang bola, tetapi jika kita tidak tahu strateginya, tentu kita tidak akan menang,” ucap Ferry.

Tantangan kedua adalah kemampuan dalam memelihara (maintance) akun yang dimiliki. Dibutuhkan konsistensi, sebab rata-rata penonton di Indonesia ini adalah pembosan. Mereka tidak akan langsung men-subscribe, tetapi akan terlebih dahulu menyesuaikan konten dengan kebutuhan mereka. Tantangan ketiga, yakni memetakan penonton, memfokuskan siapa penonton yang dituju.

Ferry Irwandi juga berpesan, “Jangan pernah mengejar untuk viral, karena itu sesuatu yang berada di luar kontrol kita. Yang bisa kita kontrol adalah kualitas konten kita, apakah data yang kita sajikan fakta, menghibur atau bermanfaat bagi orang lain.”

Related articles

Recent articles