15.3 C
New York

Hari Perempuan Nasional Apresiasi Terhadap para Srikandi Indonesia

Published:

Rabu, 9 Maret 2022 ditetapkan sebagai Hari Perempuan Nasional, Hari Perempuan Nasional dirayakan setiap tahunnya untuk mengapresiasi prestasi yang diraih oleh perempuan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Fokus utama dari perayaan Hari Perempuan Nasional diantaranya: merayakan prestasi yang diraih kaum perempuan, meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan terhadap perempuan, dan sebagai wadah untuk mempercepat kesetaraan gender, serta menggalang dana untuk badan alam yang berfokus pada perempuan.

Indonesia sendiri memiliki banyak perempuan-perempuan berjasa seperti diantaranya Raden Ajeng Kartini atau Kartini yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini tercatat oleh sejarah sebagai pahlawan wanita Indonesia yang menyuarakan kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara.Berkat kegigihan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan untuk kaum perempuan, belakangan didirikan lah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912. Tidak hanya Kartini, masih banyak lagi perempuan hebat yang berjasa untuk Indonesia Salah Satunya Rasuna Said yang juga dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di majalah Raya. Majalah ini dikenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat. Rasuna Said ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda karena kemampuan dan cara berpikirnya yang kritis.

Di tahun ini Butet Manurung, seorang wanita aktifis pendidikan terpilih menjadi Model Peran Global Barbie. Butet Manurung menjadi salah satu dari 12 Model Peran Global Barbie bersama 11 wanita dunia lainnya. Ke-12 wanita itu menjadi model untuk boneka Barbie. Sebagai Bentuk penghargaan dan apresiasi atas konstribusinya sebagai perempuan yang memberikan inspirasi terhadap dunia di
bidangnya masing-masing. Butet Manurung terpilih karena pengabdiannya di bidang pendidikan. Dimana perjuanganya di bidang pendidikan terhadap masyarakat adat Orang Rimba pedalaman Sumatera. Pada boneka Barbie yang menggunakan sosoknya, Butet Manurung terlihat mengenakan pakaian batik warna merah muda, dipadu warna hitam dengan corak bunga. Membuktikan bahwa Indonesia memiliki wanita-wanita hebat yang memberikan dampak postif terhadap Indonesia di mata dunia.

Para perempuan hebat ini bisa di ibatatkan seperti salah satu tokoh Wayang  yaitu Srikandi, Yang digambarkan dengan sosok yang mendongkak, tanda ia adalah seorang yang tegas dan pemberani. Banyak orang yang kagum pada Srikandi dan ingin menirunya dalam berbagai hal, tentang kemandiriannya dan kecantikkannya di waktu yang sama. Ia berhasil menjadi teladan bukan hanya untuk para wanita tapi juga pria, tentang bagaimana menjadi kuat tapi juga lembut, mandiri tapi juga menghargai.

Hari Perempuan Internasional dijadikan hari libur nasional di banyak negara, salah satunya Rusia, di mana penjualan bunga berlipat ganda selama tiga atau empat hari sekitar tanggal 8 Maret. China, banyak wanita diberi cuti setengah hari pada 8 Maret, seperti yang disarankan oleh Dewan Negara. Italia, Hari Perempuan Internasional, atau la Festa della Donna, dirayakan dengan pemberian bunga mimosa. Asal usul tradisi ini tidak jelas tetapi diyakini telah dimulai di Roma setelah Perang Dunia Kedua, di Amerika, bulan Maret adalah Bulan Sejarah Wanita. Proklamasi presiden yang dikeluarkan setiap tahun menghormati pencapaian wanita Amerika.

Sedangkan bagi Indonesia tidak hari  perempuan tidak ditetapkan sebagai hari libur. Tapi hari perempuan tetap menjadi simbol untuk setiap perumpuan Indonesia, dimana makna Hari Perempuan Nasional dilihat dari tiga warna yang melambangkan perayaan ini, yaitu ungu, hijau, dan putih. Setiap warna punya makna yang berbeda. Warna ungu melambangkan keadilan dan martabat. Warna putih melambangkan kesucian. Sementara warna hijau adalah simbol dari harapan.

Di hari perempuan ini kita memaknai peran-peran perempuan hebat di Indonesia, di berbagai bidang. Mulai dari petani, arsitek, guru, politikus, artis, terutama ibu, dan banyak lagi yang tidak bisa dituliskan. Juga sebagai refleksi bahwa masih banyak masalah yang menyangkut perempuan yang masih harus diselesaikan bersama mulai dari kasus pelecehan seksual, isu ketidak kesetaraan di berbagai bidang pekerjaan dan lain-lain.

kru : Wahyu & Vine

Related articles

Recent articles