29.9 C
New York

Dongeng: Cerita Ajaib Sejuta Manfaat

Published:

Ketika masih kecil, kita terbisa mendengarkan cerita dongeng seperti Cinderella, Putri Salju dan 7 Kurcaci atau Pinocchio yang legendaris hingga kini dan masih terekam di dalam ingatan. Jika dongeng tesebut merupakan cerita universal, maka untuk versi lokal ada kisah Bawang Putih dan Bawah Merah, Si Kancil, Ande-Ande Lumut, atau Keong Mas.

Dongeng oleh para ahli pendidikan anak ataupun pakar psikologi anak, dianggap sebagai salah satu media yang cukup efektif dalam membangun karakter, kepribadian maupun kecerdasan anak (Meity, 2014). Melalui media dongeng dapat ditanamkan nilai-nilai religius, sosial, kemanusiaan, serta emosional.

Media dongeng dapat menjadi media yang cukup baik dalam membantu pembentukan watak sekaligus memberikan hiburan atau rekreatif yang sehat. Ajaran tentang nilai yang bersifat normatif yang dikemas dalam bentuk cerita akan memudahkan proses transfer informasi. Meskipun aktivitas yang dilakukan adalah suatu proses pendidikan, kondisi ini akan menciptakan atmosfer yang menyenangkan bagi diri anak. Mereka tidak akan merasa jenuh dan bosan karena pesan moral dibingkai dengan narasi cerita yang bersifat imajinasi simbolik. Dongeng yang penuh dengan imajinasi simbolik ini memberi pengaruh pada pemaknaan akan kedalaman hidup (St. Sunardi 2002).

Salah satu hal penting mengapa kegiatan mendongeng dilakukan pada anak adalah untuk menarik minat membaca. Mungkin sebagian orang mengira membacakan cerita pada anak hanya sebagai sarana hiburan semata. Tanpa disadari, lewat dongeng keingintahuan mereka perlahan akan muncul dan terdorong untuk mulai membacanya sendiri. Selain itu mendongeng juga dapat merangsang kreativitas dan menstimulasi daya imajinasi dan berpikir mereka sejak dini, alih-alih mempertajam keterampilan penguasaan bahasa.

Melalui media ini pula akan membangun kedekatan emosional antara orangtua dan anak. Kedekatan antara orangtua dan anak tak dapat terbangun begitu saja. Untuk itu, diperlukan komunikasi dan pendekatan yang intens, salah satunya dengan mendongeng.
Dengan membangun kebiasaan mendongeng di depan anak, mereka akan terbiasa melihat bagaimana tata cara dan intonasi yang baik ketika berbicara, pilihan kata apa yang tepat dan menyerap cara yang kita gunakan untuk berbicara di depan umum. Dengan demikian, anak akan lebih berani untuk bercerita dan bertanya di depan umum dengan percaya diri.

Jadi melalui dongeng, banyak hal yang bersifat edukatif, konstruktif dan inspiratif pada pola pikir anak yang mampu ditanamkan.

Namun, seiring perkembangan teknologi, kegiatan mendongeng saat ini nyaris terlupakan. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapatkan anak-anak saat mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh orang tuanya.

Selain dengan cara membacakan dongeng dari orangtua kepada anak, upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan dongeng agar tidak ditinggalkan adalah dengan membawakan dongeng tersebut pada saat acara-acara kesusastraan, memperagakan dongeng dengan suara unik serta dapat membawa boneka, menceritakan kisah-kisah Nabi pada acara religius/keagamaan, dan juga mengadakan pelatihan serta lomba-lomba untuk mendongeng.

Meskipun cerita dongeng tersebut tidak terbukti kebenarannya, namun cerita-cerita itulah yang mempelopori munculnya sastra, jadi sangat penting untuk melestarikannya.

“Ternyata kegiatan mendongeng memberi banyak faedah ya! Dengan mengetahui berbagai manfaat di atas, tentunya kamu tak akan ragu lagi untuk melestarikan budaya mendongeng di masyarakat, bukan? Selamat mendongeng!”

Related articles

Recent articles