12.9 C
New York

Di Tanah Lada: Semoga Semua Anak Hidup Bahagia

Published:

Banyak yang mengatakan masa kanak-kanak merupakan masa yang paling bahagia, karena tidak perlu menghadapi bagaimana pahitnya hidup. Anak-anak hanya tau bermain, tertawa, dan melakukan apapun yang mereka mau. Orang dewasa bahkan berharap mereka ingin jadi anak-anak selamanya, tidak perlu memikirkan berbagai masalah seperti pekerjaan, percintaan, ataupun hal-hal pelik lainnya. Lalu, benarkah semua anak-anak memiliki kehidupan yang bahagia? 

Buku ini mengambil sudut pandang orang pertama dari seorang anak kecil berumur 6 tahun bernama Salva, biasa dipanggil Ava. Ava anak yang lugu, polos, dan pintar berbahasa Indonesia.

Di ulang tahunnya yang ke-6, Kakek Kia memberikannya hadiah kamus bahasa Indonesia sehingga Ava banyak mempelajari berbagai kosakata. Di umur yang seharusnya menjadi masa berkembang dan mempelajari hal baru bagi Ava, malah menjadi mimpi buruk bagi anak-anak seusianya.

Salah satu masalah besar yang dihadirkan penulis dalam novel ini adalah sosok Papa Ava yang problematik, temperamental, hobi judi, dan sama sekali tidak peduli dengan keluarganya. Setelah Kakek Kia meninggal, Ava dan Mamanya dipaksa oleh Papa untuk tinggal di rusun Reno. Rusun tersebut merupakan rusun kumuh yang berdekatan dengan kasino (rumah judi). Sehari-harinya Ava sering ditinggal sendirian karena papanya sibuk berjudi dan Mama Ava selalu dipaksa untuk ikut bersama Papanya. Hal tersebut lebih baik bagi Ava dibandingkan harus bertemu dengan Papanya. Karena sekali bertemu, Papanya tidak jarang melontarkan kata-kata kasar padanya. Ava seringkali disebut sebagai ‚Äú Saliva‚ÄĚ, karena baginya Ava sama seperti ludah yang sama sekali tidak berguna. 

Suatu ketika saat Ava membeli ayam di warung depan rusun, Ia bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama P. Ya, namanya hanya P, tidak ada kepanjangan lain. P merupakan anak laki-laki berumur 10 tahun yang tangguh dan bahkan bisa dibilang lebih dewasa dari anak seusianya. P sehari-harinya biasa mengamen dan sama seperti Ava, Ia juga lebih suka melakukan semuanya sendiri untuk menghidari ayahnya yang abusive. Meskipun begitu, P memiliki dua sosok yang begitu perhatian padanya, yaitu Mas Alri dan Kak Suri. Mas Alri adalah anak ba nd yang biasa bermain gitar bersama P dan Kak Suri merupakan wanita yang tinggal di lantai 4 dan sering mengajari P bahasa inggris. Keduanya sangat berarti bagi P meskipun hanya sesekali hadir untuk bermain dan belajar bersamanya. 

Sosok P bagi Ava merupakan malaikat yang senantiasa ada dan mau menemaninya. Meskipun baru bertemu, Ava merasa sangat nyaman dan terjaga bersama P. Konflik dan permasalahan semakin memuncak ketika Papa Ava semakin lama semakin banyak melakukan kekerasan fisik baik bagi Ava dan Mamanya. Pada akhirnya Mama Ava memutuskan untuk pergi bersama Ava dan tinggal di rumah adiknya. Namun sayangnya, Ava memilih untuk tinggal karena tidak ingin membiarkan P di Rusun Nero sendirian dan disiksa terus-terusan oleh ayahnya. Ketika Ava diajak ke rumah P, betapa terkejutnya Ia melihat kehidupan P yang ternyata lebih parah darinya. P hanya tidur di dalam sebuah kardus yang terletak di sudut dapur. Ketika Ayah P melihatnya, Ia akan mulai mengejar P dan menyiksa P dengan setrika panas. Melihat kejadian itu, Ava langsung membawa P kepada Kak Suri untuk diobati lukanya. 

Menyadari betapa menyedihkannya kehidupan P, Ava berinisiatif untuk membawa P bersamanya, pergi sejauh-jauhnya dari Rusun Nero, pergi ke Tanah Lada, yaitu tempat dimana Nenek Ishma tinggal. Namun untuk sampai kesana, keduanya membutuhkan uang. Maka P menjual satu-satunya benda berharga yang dimilikinya, yaitu HP. Dengan hanya bermodalkan keberanian dan uang yang sedikit, keduanya memulai perjalanan panjang menuju rumah Nenek Ishma. 

Jika kamu mengira kisah
Ava dan P dalam buku ini akan berakhir bahagia, kamu salah besar. Sudut pandang Ava memang menjadikan buku ini begitu hangat dan ringan dibaca. Namun ketika mulai memasuki halaman-halaman terkahir, kita akan semakin disuguhkan oleh kejadian-kejadian dan plot twist yang memilukan, terlebih lagi dibagian ending. 

Kejadian-kejadian dalam buku ini juga disajikan penulis secara realistis. Dengan kata lain, ada banyak anak yang harus menderita dikarenakan orang tuanya tidak siap secara mental untuk mempunyai anak. Ada banyak anak yang terlantar hanya karena hubungan di luar nikah dan rasa tidak bertanggung jawab. Ada banyak anak yang melarikan diri dari keluarganya karena tidak sedikitpun mendapatkan kasih sayang, bahkan diberi kekerasan fisik dan verbal. Ada banyak anak-anak yang harus berjuang melawan itu semua.

Buku ini juga memberikan pesan mendalam bagi kita semua, orang dewasa, untuk tidak menganggap remeh kehadiran seorang anak. Jika tidak memiliki kesiapan baik itu secara mental, fisik, serta aspek lainnya, maka lebih baik untuk tidak memiliki anak sama sekali. Bayangkan berapa anak yang harus menderita dan berjuang melawan luka seperti Ava dan P, hanya karena kesalahan kita sendiri. Terakhir, sama seperti harapan penulis dalam buku ini: Semoga semua anak hidup bahagia. 

Identitas Buku
Judul        : Di Tanah Lada
Penulis        : Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie
Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit    : Cetakan Kedua, Maret 2021
Jumlah Halaman: 245 Halaman

Kru: Salamah Harahap

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles