12.9 C
New York

Dampak Perundungan Digital Terhadap Kesehatan Mental oleh Senandung Campaign

Published:

Persma Kreatif — Senandung Campaign mengadakan bincang-bincang santai bertema “Dampak Perundungan Digital Terhadap Kesehatan Mental”. Pada Rabu(19/10) pukul 19.00- 20.00 melalui live instagram. Bincang-bincang santai ini dibawakan oleh moderator Dheandra Hanani dan mengundang narasumber bernama Tengku Tata Nasmit, M.Psi beliau seorang Mental Health Therapist.

“Pelaku cyberbullying selalu membentengi diri mereka dengan alasan hanya memberi kritik dan saran kepada korban tanpa menyadari dampak yang dirasakan oleh korban terhadap kesehatan mentalnya,” ujar Tengku Tata Nasmit, M.Psi selaku narasumber.

Mereka menguak pembahasan mengenai berbagai kasus tentang perundungan (bullying) masih kerap ditemui melalui berbagai pemberitaan yang beredar. Perilaku perundungan kepada anak bisa terjadi kapanpun dan dimanapun, dalam lingkup keluarga, sekolah maupun dalam lingkungan sosial anak yang tentunya dapat mempengaruhi kondisi fisik dan psikis anak. Beberapa jenis bullying yang dilakukan pelaku kepada korban yaitu intimidasi secara verbal, non verbal (fisik), pelecehan seksual, intimidasi menyangkut ras, etnis, agama, kecacatan, orientasi seksual dan identitas gender dan cyberbullying.

Dalam live steaming tersebut, Tengku Tata Nasmit, M.Psi mengatakan bahwa,”Perundungan dapat terjadi pada berbagai tingkatan usia, namun yang paling rentan terjadi kepada anak-anak. Hal ini didukung pula oleh data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menerima pengaduan masyarakat terkait kasus perlindungan khusus anak pada 2021 sebanyak 2.982 kasus. Dari jumlah tersebut, yang paling banyak yaitu sebanyak 1.138 kasus anak dilaporkan sebagai korban kekerasan fisik atau psikis.”

“Bagi para pelaku bullying bisa diberikan sanksi tegas berupa hukuman dan konseling supaya bisa menyadari bahwa perilaku yang dilakukannya salah dan merugikan orang lain. Perhatian dan pendampingan adalah kunci utama bagi anak korban bullying untuk sembuh, sehingga kasus–kasus begitu bisa dihentikan,” Ujar Tengku Tata Nasmit, M.Psi selaku narasumber.

“Selanjutnya anak yang menjadi korban bullying bisa meminta bantuan kepada orang yang ia percaya misalnya teman dekat, orangtua, guru atau konselor di sekolah supaya korban bisa memperoleh dukungan psikologis dan perhatian yang ia butuhkan. Hal ini sangat penting untuk membantu korban sembuh dari peristiwa traumatik yang dialaminya,” sambungnya.

Tujuan bincang-bincang santai ini diadakan agar dapat mencegah terjadinya perilaku bullying maka diperlukan sosialisasi pada anak supaya dapat mengetahui bentuk–bentuk tindakan bullying agar setelah disadari dan dipahami anak bisa menjadi lebih tanggap dan tidak membiarkan perilaku tersebut terus terjadi. Bullying terus berlangsung karena korban biasanya mendiamkan saja perbuatan itu dan terus-menerus terbelenggu oleh perasaan takut, lemah dan tidak berdaya. Bullying yang terjadi harus disikapi dengan penuh keberanian dan keinginan untuk membela diri sendiri atau orang lain yang mengalami perundungan, serta menyadari bahwa perilaku itu salah dan tidak seharusnya dilakukan seseorang pada orang lain.

Kru: Meli Miranda Tambunan

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles