23.7 C
New York

Belajar Bersama Anak Kampung Nelayan: Representasi yang Tepat dari Rasa Kangen

Published:

Terik menjadi momok yang cukup scientific bagi tubuh-tubuh yang memberanikan diri mengunjungi pesisir pada awal April. Ditemani perahu kecil, Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia beriktikad baik untuk menjadi pengajar sekaligus mengisi les anak-anak Kampung Nelayan, Belawan.

Adalah Bu Nurainah, atau lebih akrab disapa “Mamak” oleh mahasiswa HMJ Basastrasia Unimed yang menyambut hangat saat perahu menyandar di tepian desa. Juga ada beberapa anak-anak yang mengarak kami sampai menuju Pondok Arnila Belajar, desa Banjar Ujung, Kampung Nelayan, Belawan. Saat melangkah, kita tidak boleh berjarak berdekatan (harus berjarak iring). Hal tersebut dikarenakan kayu yang menjadi titi penyanggah (yang menjadi jalan utama) bisa saja rapuh bahkan jatuh. Itu cukup merumitkan lagi mengerikan. Sepanjang jalan menuju Pondok Arnila, kita dapat melihat bakau yang merimbun. Juga tak lupa sampah yang turut merenggut atensi kami. Kampung ini kumuh, kotor, namun menyenangkan. Mungkin kata terakhir menimbulkan pertanyaan “mengapa bisa menyenangkan?” Jawabannya akan muncul saat kepala kita menoleh ke dalam Pondok Belajar Arnila.

Pagar gigi susu yang “geripis”, tulus senyum tak pernah habis, dan riang suara cempreng manis yang menjadi alasan “menyenangkan” tersebut. Kelas ini ramai. Bahkan, terhitung sampai lebih dari 20an anak. Begitu sampai dan mengobrol sedikit tentang tujuan kami datang kepada Mamak, kami mulai memperkenalkan diri kami kepada puluhan anak-anak.

Wah, mereka ternyata sangat antusias menyambut kehadiran kami. Mereka bahkan berstatement, bahwa anak Bahasa Indonesia itu “keren”. Setelah kami memperkenalkan diri, kini giliran mereka yang satu-satu berdiri menyebut nama dan cita-citanya, tentu kami menghadiahkan mereka satu masker setelahnya. Saat memperkenalkan diri, mereka ada yang tampak malu-malu, lantang, beringas, bahkan ada yang menangis! Maklum, anak-anak masih belum dapat kita prediksi bagaimana emosinya.

Momen mendongeng pun tak lupa kami laksanakan di tengah program mengajar. Hal tersebut substansinya adalah mengglorifikasi dan mengenalkan sastra lisan yang hampir jarang digandrungi kepada anak-anak (sekaligus bentuk revitalisasi). “Kegiatan ini merupakan program kerja bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia, tujuannya memberi secercah ilmu dengan anak-anak di Desa Nelayan Sebrang. Bermain sambil belajar, berdongeng, mengajari sastra, dan berbagi masker jadi kegiatan utama kami. Saya membawakan dongeng Malin Kundang, tetapi tidak berakhiran si Malin menjadi batu, namun Malin meminta maaf pada Ibunya dan hidup bahagia. Ini yang ingin kami sampaikan, bahwa kekerasan bisa saja  bukan hanya dilakukan dengan fisik namun juga dilakukan dengan verbal (kata-kata). Sebaiknya pengetahuan seperti ini yang harus disuarakan agar anak-anak tidak belajar kekerasan dari kecil.” Ungkap Ketua HMJ Basastrasia, Boy Pratama Sembiring.

Lebih jauh, Boy berbagi kisah tentang hal-hal substantif dari program yang lembaganya inisiasi. “Alhamdulillah, kami diterima dengan baik di sana, (pengurus) Mamak membantu mengenalkan kami kepada anak-anak. Program kerja kami berjalan dengan baik dan lancar. Mamak juga menyajikan makan siang bagi kami. Kami melanjutkan untuk melihat kegiatan di Perpustakaan terapung. Titian jalan kayu yang rapuh kami tempuh sekitar 30 menit untuk sampai di perpustakaan, namun sampai di sana ternyata acara tersebut sudah selesai. Alhasil kami pun memutuskan untuk kembali ke pelabuhan awal.” Tambahnya.

Di tengah program mengajar, kami mengajak anak-anak menyanyi dan bermain games. Tentu bukanlah emosi dan sikap yang seragam yang kami dapat. Hampir semua anak riang melantunkan lagu yang kami bawakan. Namun ada juga beberapa yang menuai atensi. Seperti Fajar dan Ridho misalnya. Menempatkan mereka bersebelahan adalah hal yang kami nilai salah. Sebab, mereka seperti kucing dan anjing, selalu saja berantam apapun situasinya. Selain itu tak lupa Kakak-beradik Zahwa dan Sri yang kami lihat memisahkan diri dari barisan. Kami bertanya mengapa demikian, jawaban sang Kakak (Zahwa) membuat kami sontak tergugah. Zahwa tidak ingin bergabung dengan anak yang lain lantaran tengah menjaga adiknya (Sri) yang baru saja keluar dari rumah sakit. Kami sempat menawarkan diri untuk menjaga adiknya yang masih berumur 5 tahun itu agar Zahwa bisa ikut bermain games dengan teman yang lain, namun Zahwa masih bersikeras menjaga adiknya di belakang barisan.

“Sebenarnya pondok ini terbentuk karena anak-anak di sana jarang yang datang ke sekolah. Sebab mereka juga bantuin orang tua mereka. Nah, tujuan pondok ini dibentuk adalah untuk membantu anak-anak di sana belajar. Awalnya, anak-anak datang ke pondok mengira bahwa pondok ini sebagai tempat bermain mereka. Karakter anak-anak di sana tuh sangat aktif. Beberapa di bidang akademik memang masih kurang, namun jika disuruh berpidato, main games, dan lain-lain mereka aktifnya luar biasa. Karena saya tahu mereka punya kemampuan dan keaktifan yang bagus. Waktu saya ke sana, saya cukup kaget. Karena masih banyak ternyata anak-anak yang sama sekali belum bisa membaca. Alhamdulillah, makin lama pendidikan di sana sedikit banyak telah berkembang pesat.” Sekretaris bidang Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat, Sakila Lubis, membocorkan terbentuknya Pondok Arnila Belajar kepada Kru Kreatif.

“Sekarang, udah jarang anak-anak di sana yang benar-benar ikut bernelayan, sekalipun ada itu adalah anak-anak yang memang udah putus sekolah. Sekarang bersamaan dengan orang tua mereka yang telah percaya kepada pondok belajar ini, anak-anak hanya membantu orang tuanya mencari nafkah (nelayan) saat hari-hari libur saja. Terus makin ke sini, karena pendidikan di sana juga makin lumayan, udah selama dua tahun pondok tersebut memiliki dua guru untuk mengajari mereka. Jadi, ada guru lesnya.” Sakila menambahkan.

Siangnya selepas salat dan makan, kami mengajak anak-anak bermain. Apa yang mereka mainkan juga beragam. Ada yang bermain dengan menautkan kaki dan mereka berputar, ada permainan namanya “Paman Doli”, petak umpet, kejar-kejaran, berenang, dan bermain bola. Satu yang kami cermati dari beberapa permainan yang mengisi keceriaan mereka, yakni lagu dari permainan tersebut. Kami menemukan permainan dengan tembang-tembang yang sedikit toxic. Ah, itu sebenarnya cukup tidak nyaman. Hingga kami langsung mengimbau anak-anak tersebut agar mengganti jenis permainan.

Setelah program selesai dan kami juga memberi hadiah berupa jajan-jajanan kepada anak-anak yang aktif, dengan segera kami berpamitan untuk pulang ke Medan. Tentu, dengan menaiki perahu kecil untuk sampai ke seberang seperti tadi.

Ingin rasanya kembali ke sini dan bertransaksi riang dengan anak-anak Kampung Nelayan lagi. Setengah hari rasanya sangat kurang bagi jiwa-jiwa kami yang ingin terus berada di sana, mengajari mereka, bermain bersama mereka, bahkan makan bareng mereka. “Mereka itu kyut dan satu lagi, mereka adalah representasi yang tepat dari kangen saya.” Turup Sakila yang benar-benar mewakili suara hati kami.

Related articles

Recent articles