12.9 C
New York

Bedah Buku ‘Malim Pesong, 10 Cerpen Hasan Al Banna Mengajak Pembaca Berpikir Kritis

Published:

Medan, Persma Kreatif — Penerbit Obelia menyelenggarakan kegiatan bedah buku Malim Pesong 10 Cerpen Hasan Al Banna, bertemakan Malim Pesong: Antara Dua Mulut dengan Mulut-mulut Lainnya”. Acara ini diadakan di Kede Buku Obelia di Jl. Amaliun Nomor 152 Kelurahan Matsum II pada pukul 14.00 WIB, Minggu (4\9).

Menghadirkan dua pembicara yaitu seorang penulis dan aktivis dakwah bernama Radiva Dwika Nurfadilla, dan Audrey Sebayang, Siswa kelas XI SMA Harapan 1 Medan, seorang penulis dan alumnus Program Pertukaran Pelajar ke Pennsylvania di Amerika Serikat pada tahun 2021-2022.

Acara dibawakan oleh moderator, Titan Sadewo. Acara ini dihadiri oleh para sastrawan, beberapa mahasiswa, dan juga media massa.

Dalam acara tersebut, Radiva mengatakan, “Seluruh karya Hasan Al Banna menggunakan gaya bahasa yang sangat nyentrik. Menurutnya, jika sebuah buku menggunakan kata ‘mmmh’ di dalamnya, meskipun buku tersebut tidak diketahui siapa penulisnya, pembaca pasti akan teringat langsung dengan karya milik Hasan Al Banna, karena itu memang ciri khas beliau.”

“Pada cerpen Malim Pesong pula, Bang Hasan memberi nasihat yang sangat unik di dalamnya, bukan menghakimi, tetapi seolah-olah menyadarkan diri sendiri dengan keadaan yang sebenarnya terjadi saat ini,”” tambahnya.

Seperti halnya Radiva, Audrey pun juga menimpali “Cerpen Bang Hasan Al- Banna ini menggunakan kata-kata yang frontal, tidak hanya tertuju pada tokoh-tokoh yang diceritalan, tetapi secara tidak langsung juga menyinggung diri kita sendiri.”

Menurut Radiva dan Audrey, buku tersebut merupakan buku dakwah berjubah cerpen. Akan tetapi, ditentang langsung oleh Hasan, “Buku saya ini sebenarnya bukan buku dakwah. Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman, dan kesadaran dalam menganalisis kehidupan. Benturan-benturan kehidupan itu saya coba tuturkan dan kembangkan menjadi sebuah karya.

Cakupan dakwah sangat luas bagi saya. Bahkan benda mati sekalipun bisa saya anggap sebagai media dakwah. Karena itu, saya banyak berterima kasih kepada tanaman dan ulat, ataupun benda-benda di sekitar saya yang sering saya ajak bicara,” ungkap Hasan sekaligus menutup acara dengan tawaan para audiens yang hadir.

“Kejujuran setiap orang itu berbeda. Saya membutuhkan kacamata-kacamata yang lain, karena kejujuran sangat perlu dicari, ” tuturnya.

Kru: Dewi Susilawati dan Meli Miranda

Related articles

Recent articles