12.9 C
New York

AKSI HARI BUMI: Walikota Tak Kunjung Turun, Massa Tinggalkan Bibit Pohon di depan Gerbang Kantor Walikota Medan

Published:

Menggelar aksi bertemakan “Stop Deforestasi untuk Selamatkan Planet Kita”, Pemuda Peduli Lingkungan turun ke jalan dalam rangka Peringatan Hari Bumi 2022 di kota Medan pada Jumat (22/4/2022) pukul 14.00 s/d selesai.

Dalam aksinya, massa menggelar Long March dari Lapangan Merdeka menuju kantor Walikota Medan sembari berorasi dan menyanyikan lagu perjuangan. Selain itu, massa juga membawa spanduk yang yang sedikitnya berisi sepuluh tuntutan kepada Pemerintah Kota Medan. Tiga diantaranya adalah melestarikan bumi selamatkan Medan, mengembalikan fungsi ruang terbuka hijau, dan melakukan normalisasi sungai di Medan.

Selain mengkampanyekan tentang bagaimana kerusakan bumi, aksi juga diisi dengan musikalisasi puisi, orasi, teatrikal, hingga penanaman bibit pohon. Sayangnya, aksi ini tidak disambut hangat oleh Pemko Medan. Ketika diwawancarai, Pegiat WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumatera Utara, Widiya menyampaikan rasa kecewa yang teramat dalam kepada Walikota dan Pemko Medan. Pasalnya, massa tak kunjung mendapatkan izin penanaman pohon di lingkungan kantor Walikota, bahkan tidak mendapat perhatian dari Bobby Nasution sendiri seperti yang diharapkan. Padahal penanaman pohon ini sebagai simbolis berjalan dengan damai sehingga tuntutan yang diajukan dapat diputuskan demi kebaikan kota Medan. Oleh karenanya, sekitar 20 batang bibit pohon yang rencananya akan ditanam dipenghujung aksi, terpaksa ditinggalkan di depan gerbang kantor Walikota Medan dengan harapan ditanam dan dirawat kemudian. Nantinya juga akan di follow up kembali, apakah tanaman tersebut telah ditanam.

“Kecewa sih, kecewa. Padahal Pak Bobby itu salah satu kampanyenya waktu dia mencalonkan diri adalah menangani banjir kota Medan. Dia juga saya sebut “pencitraan”, ya. Dalam tanda kutip, itu masuk ke gorong-gorong. Seolah-olah dia memang mau mengatasi banjir padahal itu bukan aksi nyata. Karena permasalahan banjir itu ada banyak sebab, salah satunya itu ruang terbuka hijau, kemudian permasalahan sungai yang sempat terus didirikan gedung. Terus masalah drainase, kanal yang tidak terurus, itu salah satu permasalahan dan dia hanya menyoroti soal drainase. Itu sangat mengecewakan, Di mana dia enggak mengeluarkan statement, dia tidak menyambut kita padahal dia Walikota yang menggunakan isu lingkungan sebagai bahan kampanyenya.” tutur pegiat WALHI tersebut.

Ia juga menambahkan harapannya kepada pemerintah kota Medan agar lebih peduli terkhusus pada lingkungan yang kebanyakan hutannya sudah dialihfungsikan menjadi gedung perkantoran. Mengingat kondisi iklim saat ini menjadi isu global yang sangat krusial.

“Seperti yang telah disepakati dalam pertemuan iklim COP-26 dan perjanjian Paris kalau kita harus berkontribusi dalam menurunkan dan menghambat laju suhu bumi sampai 1,5%. Hanya saja, jika pemerintah tidak memberikan aksi nyata yang serius dan lebih mengendepankan investasi serta perekonomian yang tidak pro lingkungan, Artinya kita nggak bakal mencapai itu. Karena hutannya dunia itu paling banyak ada di Indonesia”.

Kru: Citra Lestari

Related articles

Recent articles