Alopecia Sharing Session Dorong Kesadaran Masyarakat dan Ciptakan Ruang Aman bagi Penyintas
Medan, Persma Kreatif – Dalam rangka memperingati Alopecia Awareness Month, komunitas Alopecia mengadakan Alopecia Sharing Session di Lapangan Sepak Bola Bank Indonesia (BI), pada Sabtu (12/9/2026).
Mengangkat pengalaman penyintas dan perspektif psikologis, kegiatan ini menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Alopecia sekaligus membuka ruang aman bagi para penyintas untuk berbagi pengalaman.
Yuni Girsang, selaku Alopecia Survivor, menceritakan pengalaman pertama kali mengalami kerontokan rambut ketika berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Kondisi tersebut awalnya tidak dianggap serius hingga gurunya menyadari rambut Yuni banyak rontok saat sedang belajar di kelas.
Kerontokan rambut yang dialaminya kemudian membuat Yuni menghadapi berbagai anggapan dari orang-orang di sekitarnya. Ia sempat dianggap mengalami penyakit seperti kanker atau lupus dan menerima berbagai saran untuk mengatasi kerontokan rambut, mulai dari menggunakan kemiri hingga memperbanyak minum air putih. Ia bahkan pernah disarankan untuk menemui “orang pintar”.
“Orang-orang beranggapan saya kena kanker atau lupus. Jarang ada yang menganggap bahwa mungkin memang style saya seperti itu,” ujar Yuni.
Berbagai pandangan tersebut turut memengaruhi proses Yuni dalam menerima perubahan penampilannya. Sebagai perempuan Kristen, ia merasa memiliki keterbatasan untuk menutupi kondisi rambutnya dengan hijab seperti yang dilakukan sebagian perempuan Muslim. Kondisi tersebut sempat membuat Yuni mempertanyakan dirinya sendiri dan hubungannya dengan Tuhan. Ia bahkan sempat berpikir bahwa Tuhan tidak menginginkannya memiliki hubungan dengan lawan jenis karena kondisi rambut yang dialaminya membuatnya merasa tidak cantik.
Setelah melalui berbagai proses, Yuni akhirnya mengetahui bahwa dirinya mengalami Alopecia. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya perubahan fisik, melainkan kondisi mental dan pandangan orang lain terhadap dirinya. Tetapi, penerimaan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk komunitas Alopecia, membantu Yuni menjalani kondisinya dan membuatnya merasa tidak sendirian.
Pengalaman Yuni tersebut kemudian diperkuat dengan perspektif psikologis yang disampaikan oleh Afwan Lubis, selaku DiscoverMe. Ia menjelaskan bahwa cara seseorang mempersepsikan suatu keadaan dapat memengaruhi cara menghadapi situasi yang dianggap sulit.“Semua yang kita anggap sulit itu sebenarnya tergantung bagaimana kita menghadapi suatu situasi. Kalau kita mengutip Lazarus, bagaimana kita menghadapi sesuatu itu tergantung bagaimana kita mempersepsikan situasi tersebut, apakah sebagai sesuatu yang mengancam, biasa saja, atau sebagai tantangan,” ujar Afwan.
Selain itu, Afwan juga menekankan pentingnya self-love dalam menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Menurutnya, mencintai diri sendiri bukan berarti selalu merasa baik, melainkan mampu menyadari kondisi diri tanpa memaksakan keadaan.Setelah sharing session bersama kedua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan olahraga frisbee. Para peserta bermain bersama dalam suasana yang lebih santai dan interaktif.
Kegiatan tersebut juga turut dihadiri peserta dari berbagai daerah, termasuk beberapa peserta dari luar negeri. Keberagaman peserta menunjukkan antusiasme untuk mengenal lebih jauh mengenai Alopecia sekaligus membangun ruang yang aman bagi para penyintas untuk berbagi pengalaman.
Menutup kegiatan, Yuni berharap peringatan Alopecia Awareness Month dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Alopecia dan mendorong terciptanya ruang yang lebih aman bagi para penyintas.
“Kalau teman-teman melihat orang dengan Alopecia atau orang dengan style yang berbeda, tolong biasa saja. Jangan mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak salah dengan mereka, karena it’s just who they are. Mereka akan terbuka dengan sendirinya kalau kalian bisa menjadi safe zone bagi mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Afwan mengingatkan bahwa seseorang tidak harus menghadapi setiap keadaan seorang diri. Dukungan dari komunitas dan orang-orang yang dipercaya dapat menjadi bagian penting dalam proses menerima dan menjalani keadaan.
