13.1 C
New York

Webinar “Membaca Tanda, Menyerap Makna”: Dosen Sasindo Unimed Sajikan Materi Ekosemiotik Melayu

Published:

Kamis, 17 Juni 2021, Asosiasi Prodi non-pendidikan (Sastra Indonesia) menginisiasi program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) yang membahas kajian semiotika. Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan, Mara Untung Ritonga, Ph.D berkesempatan menjadi narasumber yang membahas Eko-semiotik “studi tentang tanda-tanda budaya Melayu”. Acara ini diwadahi oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang merangkul delapan Universitas dari Asosiasi Prodi Sastra Indonesia, yakni Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Jember, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Surabaya. Selain memanggil Mara Untung Ritonga, Ph.D. sebagai narasumber, seorang guru besar sekaligus linguis forensik Prof. Dr. Aceng Saefullah, M.Hum. juga menjadi narasumber yang membahas seputar semiotik untuk analisis linguistik forensik.

Mengusung tema “Membaca Tanda, Menyerap Makna”, diskusi publik ini dilangsungkan dengan menggunakan aplikasi zoom sebagai medianya. Payung semiotika menjadi pembahasan yang esensial. Hal tersebut ditenggarai oleh betapa pentingnya peran semiosis di bidang linguistik maupun hukum (forensik).

Pada kesempatan berdiskusi, Dosen Sastra Indonesia Unimed, Mara Untung, Ph.D. yang menjadi narasumber mengungkapkan bahwa Ekosemitok merupakan realisasi merdeka belajar. Ekosemitok bersifat multidisipliner, hingga atas dasar itulah mengapa Ekosemiotik khususnya membahas tanda dalam bahasa Melayu cukup baik diinisiasi. “Setiap budaya yang diciptakan oleh suatu komunitas jelas mencerminkan keluhuran budi dan intelektualitas komunitas tersebut secara harmonis dan simbolis. Jika masyarakat telah menyimpang dari budayanya sendiri termasuk ekosistemnya, maka akibat yang dapat timbul adalah hilangnya karakter sebagai identitas budaya, bencana alam akibat eksploitasi negatif, sikap buruk terhadap ekosistem, dan sebagainya. Suatu budaya akan terpelihara dengan baik jika diturunkan dari generasi ke generasi. Kegiatan ini akan lebih efektif jika kita memahami makna, fungsi, dan hal lain dari suatu benda dan terlibat dalam kegiatan budaya.” Ungkapnya dalam diskusi.

“Banyak dari kita masyarakat Indonesia yang justru bangga dan meromantisasi budaya asing. Kontak budaya dan kontak bahasa inilah yang pada akhirnya memberikan semacam rasa bangga dengan budaya luar, termasuk bahasa. Padahal, kita punya Balai Bahasa atau pusat Bahasa yang mengatur bagaimana kedudukan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Memang kita melalui pendidikan harus memperkenalkan bahwa bahasa daerah itu sangat bermanfaat jika dijaga kelestariannya. Apabila bernilai baik dan bermanfaat tentu akan diterima. Jadi kontak budaya itu boleh, tapi kan kita punya motto, ‘utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.” Sambung Dosen Sastra Indonesia Unimed ini.

Lebih jauh ia berpendapat bahwa ada suatu kesepelean kita terhadap bahasa Indonesia yang parahnya hal tersebut telah dinormalisasi, “kalau kita berbahasa Inggris dengan aksen yang salah, biasanya kita malu. Takut salah menuliskan dan mengucapkan bahasa Inggris. Tapi orang sekarang tidak malu jika berbahasa Indonesia yang salah. Mereka beranggapan bahwa berbahasa Indonesia yang penting secara konteks sampai, tapi harus digarisbawahi bahwa mereka telah mengabaikan aspek gramatika. Padahal gramatika itu mencerdaskan bangsa.” Tutup Mara Untung Ritonga, Ph.D. seraya mengimbau agar kita belajar lebih banyak lagi tentang Bahasa Indonesia dan tak begitu meromantisasi bahasa asing.

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles