asd
32.3 C
New York

NIKAH ALA SUKU MANDAILING

Published:

Bhinneka Tunggal Ika, itulah semboyan negara kita yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari beragam budaya, suku bangsa, ras, etnis dan agama. Ada lebih dari 300 kelompok etnis atau suku bangsa di Indonesia, atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beragam etnis, baik sebagai etnis asli, maupun etnis pendatang. Etnis asli Sumatera Utara terdiri atas delapan etnis, yaitu: Melayu, Batak Karo, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pesisir, Simalungun, Pakpak, dan Nias.

Dari delapan etnis tersebut, kita akan membahas tentang suku Mandailing. Mandailing adalah suatu wilayah yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal di tengah Pulau Sumatera. Orang Mandailing hampir 100% penganut agama Islam yang taat, oleh karena itu lah agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan upacara-upacara adat. Masyarakat Mandailing sebagai salah satu suku bangsa yang terdapat di Sumatera Utara yang dalam konsep Van Volenhoven yang terkenal dengan 19 lingkungan adatnya memasukkan suku Mandailing dalam lingkungan tanah Batak (Tapanuli) dengan wilayah Gayo, Alas dan Batak.

Suku Mandailing merupakan nama suku bangsa indonesia yang mendiami sebagian kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Suku Mandailing mengenal paham kekerabatan patrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang Mandailing mengenal dan menggunakan marga. Di Mandailing dikenal belasan marga, berbeda dengan di Batak yang mengenal 500 marga. Marga di Mandailing antara lain: Lubis, Nasution, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Harahap, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, Hutasuhut.
Masyarakat Mandailing memiliki hukum adat istiadat perkawinan yang memuat serangkaian kegiatan yang di mulai dengan, mangaririt boru (menyelidiki calon pengantin), padomos hata (penyampaian maksud), patobang hata (memantapkan pembicaraan), manulak sere (menyerahkan mahar) pada saat inilah penentuan hari pesta pernikahan.

Prosesi Pra-nikah
Mangaririt Boru
Mangaririt Boru disini adalah apabila seorang lelaki sudah mempunyai niat untuk menikah dan sudah punya calon tersendiri. Seorang lelaki tersebut harus menyampaikan keinginannya tersebut kepada orangtuanya, maka orang tua disini wajib untuk menjajaki siapa perempuan itu, apakah kalau mereka datang nanti lamaran mereka akan diterima atau apakah sudah ada lelaki yang lain terlebih dahulu melamar perempuan tersebut. Semua hal perlu diselidiki terlebih dahulu, inilah yang dimaksud dengan Mangaririt boru.

Padamos Hata
Setelah acara Mangaririt boru selesai, selanjutnya mempelai laki-laki bersama keluarga datang dan memperkenalkan secara langsung ke pihak boru (perempuan). Di rumah perempuan pihak dari perempuan akan menanyakan maksud kedatangan pihak lelaki. Percakapan yang terjadi kurang lebih seperti dibawah ini:

Ahli bait : “Apakah maksud dari keluarga abang datang kerumah kami?”

Pihak laki-laki : “Mengingat anak kami si Pulan yang sudah besar badannya, sudah tamat sekolah, sudah ada pekerjaannya, dia bercita-cita untuk berumah tangga, dan kami ingin bertanya benar di rumah bapak ini ada seorang putri yang bernama Sinta merupakan putri bapak dan apakah sudah ada yang meminangnya?”

Ahli bait : “Betul, ada putri kami yang bernama Sinta dan sepengetahuan kami belum ada yang meminangnya.”

Pihak laki-laki : “Baik la, jadi apakah kami dari pihak yang datang ini diperbolehkan untuk datang kembali meneruskan maksud kami yaitu lamaran?”

Ahli bait : “Karena si Sinta tadi belum ada yang melamar, maka tidak ada alasan kami untuk menolak niat baik dari pihak keluarga abang.”
Setelah acara diatas pihak laki-laki akan kembali ke rumah, dan selanjutnya akan datang lagi dalam acara lamaran.

Patobang Hata
Setelah acara Mangaririt berjalan dengan lancar, maka pembicaraan akan sampai pada tahap Patobang Hata (melamar). Pihak laki-laki akan datang kembali kerumah keluarga perempuan untuk peminangan yang sesungguhnya. Dalam melamar ini pihak laki-laki harus membawa Salipi. Salipi diletakkan di dalam kantung berbentuk segi empat yang terbuat dari tikar anyaman pandan berwarna putih dan di kelilingnya dihiasi benang berwana-warni. Di dalamnya terdapat kapur sirih, pinang, gambir, tembakau, dan burangir (daun sirih).
Salipi juga mempunyai arti simbolik, seperti diungkap dalam pantun dibawah ini:
Salipi uram kapogan
Namu marincang bumarijoijo
Songon rampua diginjang eme parompingan
Maknanya adalah “Inilah tempat sirih adat Mandailing yang begitu dihargai seperti burung tampua menari-nari di atas padi.” Gambaran ini menunjukkan indahnya salipi yang diberi aneka hiasan yang cantik.

Selanjutnya salipi tersebut di berikan kepada pihak perempuan disertai dengan percakapan:

Pihak laki-laki : “Apakah sudah boleh kami sampaikan hajat kami”

Ahli bait : ” Silahkan sampaikan. Sirih kami terima”
Pihak laki-laki : “Kami ingin menyambung yang beberapa hari yang lalu. Kira-kira Sinta di izinkan untuk jadi teman hidup anak kami si Pulan.”

Ahli bait : “Kami berbesar hati. Tapi mengingat ada uwaknya, ada mora kami. Mora kami la yang tau dan menyambut hajat dari pada keluarga kami, ini pun kami serahkan ke pihak mora.”

Mora : “Assalamu’alaikum Wr.Wb, terima kasih kepada pihak keluarga perempuan telah memberi kepercayaan kepada saya sebagai mora dari keluarga ini. Sambutan anak boru ayah Sinta sudah besar hati namun ayahnya menyerahkan kepada kami. Tentunya kami dari pihak mora ni mora ikut berbesar hati. Tapi begitulah indahnya budaya bukan semudah itu memetik kembang kami tanpa syarat adat. Jika setuju maka persyaratan yang akan kami berikan sebagai berikut (persyaratan bisa juga di tentukan oleh kedua pihak):
Perlengkapan Kamar
Seperangkat Pakaian
Seperangkat Alat Shalat
Pakaian (kain sarung paliket)
Emas sebesar kepala kuda (Jarang ada yang sanggup memenuhinya).

Manulak Sere
Setelah lamaran berjalan dengan lancar, selanjutnya adalah hantaran. Pihak laki-laki akan datang bersama rombongan dengan membawa semua persyaratan-persyaratan yang diminta pihak perempuan pada saat lamaran tersebut. Pihak laki-laki dan perempuan akan berdiskusi dan berbincang-bincang. Kadang menggunakan pantun/syair, contohnya:
Ke Gersik sudah ke Penang sudah
Kapan ndak ke Kedah, Kapan ndak ke Sumbawa
Jerisik sudah dipinang sudah
Kapan ndak kami bawa

Disaat berbincang-bincang ada beberapa hal yang akan dibahas :
Kapan tanggal pernikahan akan dilaksanakan.
Apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk acara pesta adat.
Akad nikah dilaksanakan dirumah pihak mempelai perempuan, setelah itu pesta dirumah laki-laki.

Prosesi Acara Pernikahan (Hari H)
Pihak laki-laki akan datang kerumah perempuan untuk melangsungkan akad nikah, dalam akad nikah ini pihak laki-laki diwajibkan membawa Salipi. Setelah selesai akad nikah, sorenya mempelai wanita akan dibawa kerumah laki-laki untuk mengadakan pesta besar-besaran.

Adapun rangkaian acara pernikahan adat mandailing di rumah mempelai laki-laki, yaitu:
Memberi Gelar
Mempelai laki-laki akan diberi gelar dengan tujuan agar anaknya pada suatu saat nanti bisa mengikuti adat pernikahan Mandailing seperti adat pernikahan ayahnya.

Kenduri
Kenduri adalah masak nasi dan gulai disertai dengan doa selamat dan doa arwah.

Marhaban
Marhaban adalah penyambutan kedua mempelai, dalam penyambutan ini diiringi dengan marhaban, pencak silat, dan gordang sambilan.

Tampung Tawar
Tampung tawar adalah pemberian restu kedua pihak keluarga, kaum kerabat, dan tamu undangan.

Doa Selamat
Doa selamat adalah doa untuk kedua mempelai agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Membawa Kedua Mempelai ke Sungai Batang Gadis
Kedua mempelai akan dibawa ke sungai batang gadis dengan tujuan menghanyutkan perangai-perangai waktu gadis dan bujang.

Acara Makan Siang
Acara ini tamu undangan makan bersama.

Acara Hiburan
Biasanya acara hiburan di isi dengan musik Gordang Sambilan dan Manortor

Related articles

Recent articles