asd
32.3 C
New York

Lamtiar Simorangkir dan Harapan Tak Kasat Mata

Published:

“Mohon maaf, Pak Presiden. Bapak harus lihat Invisible Hopes. Mohon maaf saya ingin malam ini bapak berjanji bahwa bapak akan melakukan sesuatu bagi anak-anak yang hidup di balik jeruji penjara, Pak.”

Medan,Persma Kreatif- Begitulah ungkapan Lamtiar Simorangkir yang disampaikan dengan suara bergetar di depan presiden Indonesia, Joko Widodo pada festival film indonesia 2021. Hingga sekarang, momen itu tak pernah dilupakan oleh Tiar.

Lamtiar Simorangkir adalah produser sekaligus sutradara Invisible Hopes. Film yang sempat mencuri perhatian publik atas celotehan kisah kehidupan narapidana ibu hamil yang melahirkan anak di dalam penjara. Anak-anak tidak bersalah tersebut lantas menghabiskan tahun-tahun pertama mereka di balik jeruji besi, layaknya terpidana. Fakta ini yang diceritakan dalam film Invisible Hopes, pemenang piala citra 2021 kategori film dokumenter panjang terbaik.

Lewat film ini, Lamtiar Simorangkir juga menyoroti sulitnya sang ibu dan anak mendapatkan akses terhadap makanan bergizi maupun layanan kesehatan. Belum lagi stigma ganda yang sering didapat sebagai narapidana perempuan. Untuk membangun kesadaran bersama akan isu yang jarang diketahui publik ini, film Invisible Hopes diputar di bioskop dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kami mencoba berbincang dengan Lamtiar tentang bagaimana ia begitu resah anak fenomena ini, anak-anak yang lahir di balik jeruji besi. Kisah ini berawal dari perjumpaannya dengan seorang anak di lapas semarang.

“Ada satu anak perempuan di lapas Semarang, dia satu orang dan satu sel, empat ibu narapidana. Lalu saya pikir ‘Wow!’ gimana kehidupannya, ya? Saya lagi ngobrol. Dia masih satu setengah tahun. Ngobrol, tiba-tiba bel penjara bunyi. Dia kiss bye ke saya, pergi. Saya bingung karena saya baru pertama itu ke penjara. Terus kata si petugasnya. Oh dia itu pinter kak, dia udah tahu itu artinya bel masuk sel. Buat mereka pinter tapi buat saya itu menyedihkan. Berarti dia memposisikan dirinya narapidana. Dari lahir dia memposisikan dirinya narapidana. Bukan anak yang bebas”.

Sosok Lamtiar (sutradara) pada pemutaran film Invisible Hopes 2021. Sumber foto: dokumentasi pribadi narasumber.

Sejak riset tahun 2017, perjalanan Tiar dan komunitas filmnya, Lamhoras Production tidak luput dari tantangan. Mereka mulai membuat film ini tanpa dana dan dukungan dari siapa pun. Tiar sendiri terkena PHK dari pekerjaannya terdahulu karena fokus pada pembuatan film. Dengan dalih bahwa isu ini bukan masalah prioritas, berbagai lembaga pemerintah dan internasional yang memiliki concern pada isu perempuan anak juga menolak memberikan dukungan. Hingga kemudian, kedutaan Swiss dan kedutaan Norwegia memberikan bantuan dalam bentuk dana. Namun, hal yang lebih miris adalah absennya pemerintah dalam menindaklanjuti fakta pahit yang tersampaikan melalui Invisible Hopes ini.

Joko Widodo, Presiden RI pun sempat merespon bahwa kisah ini luput dari perhatian, “Mengenai perempuan, wanita-wanita yang ada di penjara yang melahirkan anak yang tadi (pada) Invisible Hopes dan yang lain-lainnya, menurut saya, sudut-sudut yang diambil yang kadang kita tidak mempunyai pikiran ke arah itu”.

Sumber foto: tangkapan layar Lamtiar pada FFI 2021

Dengan durasi 1 jam 45 menit, Invisible Hopes berhasil membuka mata dan hati penonton akan peliknya kehidupan narapidana perempuan di dalam penjara, serta anak-anak yang menjadi korban.

“Kok cuma saya yang peduli, ya mbak? Saya jadi pengen nangis,” sambung Lamtiar dalam wawancara. Ia pun sempat bercerita pengalamannya enam bulan meresapi kehidupan sebuah penjara yang tidak disebut lokasinya. “Ketika saya sudah enam bulan di dalam penjara bersama mereka, saya tuh udah gak bisa tidur. Sesuatu harus dilakukan, dan saya berjanji ke mereka. Ketika mbak lihat ya di Invisible Hopes, mereka dekat banget dengan kita. Mereka terbuka banget. Karena saya berjanji akan saya bantu melalui film ini supaya ada perubahan yang lebih baik.”

Lewat Invisible Hopes, terkumpul donasi seperti makanan, popok bayi, susu dan lain sebagainya. Lamtiar memberikannya langsung kepada narapidana ibu hamil di lapas-lapas yang ada di berbagai kota. Inilah kekuatan sebuah film. Menumbuhkan kesadaran publik akan persoalan yang terjadi, menjadi bahan diskusi untuk menciptakan solusi. Setiap anak berhak untuk hidup di dunia yang bebas, sehat, terlindungi dan bahagia.

Invisible Hopes adalah cara Lamtiar menyuarakan keresahannya terhadap narapidana ibu hamil dan anak-anak yang lahir dalam penjara. Bagaimana dengan Anda? Apakah akan memilih duduk diam di kursi penonton? Atau menjadi ‘pelaku’ untuk mewujudkan ‘harapan tak kasat mata.’

#Persmahasiswa #persmakreatif #lamtiarsimorangkir #dewanpers #anugerahdewanpers2023

Related articles

Recent articles