asd
25.9 C
New York

Beberapa orang minta dihormati, tapi kok bikin kontroversi?

Published:

Berteriak-teriak tidak jelas sembari mendendangkan lagu “Faint” karya Linkin Park mungkin adalah hal yang paling seru dari segala apapun (di sini tak mempermasalahkan apakah anda berdiri pada panji-panji Indie yang turut menyenandungkan lagu dengan basic puja-puji senja, kopi, hujan, romansa, serta pernak-perniknya yang lain. Itu terserah anda). Yang jelas, mengangguk-angguk beringas ala mendiang Chester Bennington sedang di atas panggung juga akan terlihat lebih asyik bagi beberapa orang (anda tak bisa menentangnya) daripada berjoget menikmati Koplo dan Reggae. Imagine, the mix between rap and (you know this genre is alternative metal) huh? So yummy, dude. Faint” memang seasyik itu bagi sebagian orang daripada lagu “Piling gut” ataupun “kil dis lop”. Saya ingin tertawa dan berujar. Bagaimana bisa beberapa orang sekeras kepala itu mempertahankan statement bahwa genre alternative metal berada satu tingkat di atas genre lainnya? Namun, harus ditegaskan bahwa hal tersebut sifatnya adalah murni dari sebuah selera. Beda loh ya, jika kasusnya anda menentang dan membenturkan selera mereka dengan selera anda. Karena lebih memilih untuk menghormati adalah perilaku yang paling rasional (karena membenturkan selera adalah hal yang relatif konyol). Apalagi jika anti kritik (seperti banyak orang yang ditemui dimanapun itu).

            Omong-omong soal anti kritik, faktanya penyakit bernama anti kritik tersebut menyerang manusia tanpa pandang bulu, status sosial, umur, jenis kelamin, maupun jeans atau sandal yang digunakan (mungkin juga ukuran otak). Atau jangan memaksa jemari ini untuk mempersoalkan bagaimana bumbu-bumbu starata sosial dijadikan dalih untuk “diwajarkannya” seseorang yang berstatus sosial lebih tinggi untuk boleh bersenggama dengan anti kritik. Apalagi dengan menumbuhkan premis tidak masuk akal seperti “Loh kamu mengapa nentang? Saya kan dosen!” atau “Saya ketua di organisasi ini!” bahkan ada juga “Kalau menurut saya perilaku saya masuk akal, jangan sok-sok nyeramahin, deh.” Juga serupa jika kita mempersoalkan kasus respirokal tentang bagaimana manusia-manusia tengil (tak pantas untuk tengik) namun dogmatis dan anti kritik. Seperti contoh mahasiswa yang anti kritik terhadap masukan dosen atau mahasiswa lainnya, anggota terhadap pimpinannya, serta perilaku vertikal yang tak pantas lainnya. Eiiit. Tapi tunggu dulu. Di sini saya tak mewajarkan segala bentuk anti kritik. Namun, saya ingin mempersoalkan bagaimana konstruksi berpikir masyarakat bahwa anti krtitik atau dogmatisnya seseorang yang lebih tinggi status sosialnya merupakan sebuah “kewajaran”. Kalau kata teman SMA saya, “Kewajaran gundolmu!”.

            Jelas, sungguh jelas bahkan. Bahwa memakan prekedel, bersikap mentel, tidur-tidur gembel, maupun mengunjungi Sulsel jauh lebih terhormat daripada ngeyel dan memanfaatkan status sosial untuk membredel. “Seseorang memiliki jabatan tinggi” hal tersebut tentulah tak dapat menjadi acuan bahwa statement maupun proses berpikir orang tersebut merupakan sebuah kebenaran yang aksioma. Lah ya iya, dong. Ya kalau mereka salah, monggo diingatkan dan beri masukkan. Namun, kalau mereka anti kritik? Itu lain cerita. Pak Mario Teguh pun mungkin bisa garuk-garuk rambut (eh rambut?).

            Tak dapat dipungkiri sistem berpikir sebagian masyarakat masih seputar “anda berada di atas maka anda wajar bersikap anti kritik, otoriter, dan setan-setannya yang lain”. Naif bukan? Tidak ada yang namanya “kewajaran” bagi siapapun yang anti kritik. Nah, omong-omong soal siapa yang lebih tinggi, beberapa orang pasti berpikir dan mempertanyakan entitas prinsip keadilan. Namun, dengan mengatas namakan prinsip aksiologi, disaat seseorang yang lebih rendah menentang, mengkritisi, dan sebagainya, maka seseorang yang lebih tinggi membalas kritikan itu dengan membenturkan dengan norma kesopanan. Lah, jika prinsip “norma kesopanan” sebatas itu, maka siapa yang akan menghargai “seseorang yang lebih rendah”? sesamanya? Penyakit tak berkesudahan nih namanya.

Beberapa orang minta dihormati, tapi kok bikin kontroversi? Saya tak berani menggugat bahwa hal tersebut merupakan dekadensi moral, krisis moral, serta setan-setannya yang lain. Nanti takutnya dibilang polisi moral atau S3 moralitas pula (hehe). Namun dan namun, gatal rasanya untuk tak mempermasalahkan hal itu. Apalagi sampai orang yang bersangkutan melarang kita untuk bersuara (bersuara disini konteksnya bukan untuk menggurui ya teman-temin). Huh? Are you seriously, darl? Duh, jadi ingat celotehan Voltaire nih “Aku tidak setuju apa yang kau bilang, tapi aku akan membela hakmu untuk menyampaikan pendapat.” Dikutip Rusdi Mathari (Aleppo). Apa jadinya jika salah satu pihak memberi kecaman terhadap kita (yang bersuara) dengan mengatasnamakan “prinsip kesopanan” karena status sosialnya lebih tinggi daripada kita? Tak pantaskah itu dipersoalkan? Nah jika mempersoalkan, pantaskah beberapa orang menyebut kita dengan labelisasi “polisi moral”? Duh, susah susah gampang ya tinggal di negeri penuh orang bebal dan ceriwis ini. Kesel, deh.

Mungkin berolahraga ditengah pandemi Corona Virus Disease 19 (Covid-19) jauh lebih menyehatkan daripada kesel-kesel nggak jelas seperti ini. Atau menangkap ayam dan sapi di WhatsApp story teman akan jauh lebih menguntungkan. Bagaimana tidak? Foto kita di post dengan biodata hiperbolis cuy. Lah daripada kesel sendiri dengan orang anti kritik? Rugi, gaes. Ya kalau celotehan dan masukkan kita di dengar, kalau tidak apa boleh buat? Biarlah masyarakat berkembang dengan sendirinya, ya. Kalau kata W.S Rendra “lebih baik kita lari ke dalam puisi ganja”. Sekain. Eh, sekian.

Related articles

Recent articles