Seminar Happenmasi 2026 Dorong Pendidikan Keluarga Adaptif di Era Digital
Medan, Persma Kreatif — Jurusan Pendidikan Masyarakat (Penmas) Universitas Negeri Medan (Unimed) bersama Happenmasi menggelar Seminar Nasional Happenmasi 2026 di Aula Digital Library Unimed, pada Kamis (24/9/2026). Seminar tersebut membahas pentingnya pendidikan keluarga di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Kegiatan mengangkat tema “Reaktualisasi Pendidikan Keluarga Berbasis Pemberdayaan di Era Disrupsi Digital dan Kearifan Lokal: Refleksi Penmas Reborn” dan diikuti akademisi, mahasiswa, praktisi pendidikan, pegiat masyarakat, serta masyarakat umum.
Rektor Unimed Prof. Dr. Ir. Baharuddin, S.T., M.Pd. mengatakan perkembangan digital telah mengubah cara keluarga belajar, berkomunikasi, bekerja, hingga mendidik generasi muda. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendidikan keluarga perlu terus disesuaikan dengan perubahan zaman.
“Pendidikan keluarga perlu terus direaktualisasi. Keluarga tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pengasuhan, tetapi juga harus menjadi ruang pemberdayaan, pembentukan karakter, penguatan literasi digital, dan penanaman nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.
Seminar menghadirkan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., sebagai keynote speaker. Ia menekankan pentingnya pendidikan keluarga yang adaptif terhadap perkembangan digital, berbasis pemberdayaan, dan tetap mempertahankan kearifan lokal.
Tiga narasumber turut memberikan pemikiran, yakni Prof. Dr. Anan Sutisna, M.Pd. dari Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Yusnadi, M.S. dari Unimed, dan Laila Sari, S.Psi., M.Pd. dari FKPKBM Sumatera Utara.
Prof. Anan menyoroti masyarakat hiper-konektif di era Society 5.0 yang membutuhkan penguatan resiliensi keluarga, literasi digital, pendidikan karakter, etika penggunaan kecerdasan buatan (AI), pemberdayaan komunitas, serta pembelajaran sepanjang hayat.
Sementara itu, Prof. Yusnadi menekankan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Menurutnya, kearifan lokal tetap penting sebagai sumber nilai dalam membentuk karakter anak, tetapi perlu dipadukan dengan kecakapan digital agar keluarga mampu menghadapi arus informasi dan perubahan budaya.
Laila Sari menempatkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai penghubung antara keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. PKBM diharapkan dapat menjadi ruang belajar keluarga yang fleksibel dan kontekstual, sekaligus mendukung literasi digital dan pendampingan orang tua.
Seminar tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Happenmasi ke-4 sebagai ruang penguatan kolaborasi antarprogram studi dan akademisi Pendidikan Masyarakat di Indonesia.
Editor: Widya
